“..diatas langit, masih ada langit..”

Kalimat itu mengingatkanku pada dialog yang sering diucapkan oleh Brama Kumbara dalam sandiwara radio Saur Sepuh. Sebuah sandiwara radio yang ngetop di tahun jadul banget (sekitar tahun 1990-an). Saking ngetopnya, ibu-ibu rela meninggalkan masakannya untuk dengerin sandiwara ini. Anak sekolah akan merasa ketinggalan jaman kalo ga ngikuti tiap episodenya. Bapak-bapak jadi punya khayalan yang *ehmmm..ehmm* tentang Lasmini, karakter cewek penggoda yang suaranya sueksi..Saking ngetopnya, setiap kali ada jumpa fans (kop-dar), orang-orang rela antri untuk ngeliat gimana tampang-tampang para pengisi suaranya (meski kemudian banyak juga yang kecewa, karena ternyata mereka tak seindah dalam khayalan). Saking ngetopnya, begitu sandiwara ini di angkat ke layar lebar, orang rela antri berjam-jam untuk mendapatkan tiket nonton. Kaca-kaca bioskop pecah saking semangatnya orang-orang mengantri….Hmm..masa kejayaan radio yang penuh dengan imajinasi…

Tapi bukan itu yang mau aku bicarakan. Kutipan dialog itu, tiba-tiba datang dan mengendap dikepalaku. Menempel erat di antara sel-sel otakku, bagai perangko di atas amplop. ..

Kutipan itu muncul setelah aku blogwalking dan membaca postingan yang hebat-hebat. Kutipan itu membuat aku merasa kecil (atau minder? kekeke). Anyway, semakin banyak aku membaca, makin aku merasa betapa aku tidak tau apa-apa. Semakin banyak aku membaca, semakin aku merasa bodoh, tolol, konyol, sok tau, etc.

Entah kenapa, kutipan itu muncul barengan dengan niatku untuk tidak milih-milih bacaan apapun. Selama ini aku lebih suka (cenderung) membaca buku-buku teks –tuntutan pekerjaan– ketimbang buku dengan tema lain. Secara tidak langsung, hal ini justru mematikan kepekaanku akan hal-hal yang terjadi di sekitarku. Buku teks menghentikan cara berpikirku karena aku akan selalu mencari pembenaran teori atas realitas (waduhh…bahasa planetnya keluar, deh..:-().

Jadi, mulai sekarang, aku ga milih-milih lagi. Aku mo lahap semua jenis buku, yang berat, yang ringan. Yang berbobot, yang kacangan. Hmmm…