Sinopsis

Ipung adalah seorang pengrajin batik . keahlian dan kreativitasnya sangat tinggi dalam menciptakan desain dan bentuk baru batik kayu. namun sayang, hasil karyanya hanya menumpuk di sudut ruang rumahnya. selama ini, hasil karya Ipung dipasarkan melalui jalur-jalur konvensional, sehingga usaha terkesan mandeg.

pada suatu hari, ipung membaca pengumuman mengenai lomba desain batik kayu yang diselenggarakan oleh Asosiasi Masyarakat Indonesia di Belanda. seluruh desain dan informasi lengkap disebarkan dan dikirim melalui internet, mengingat tujuan dari lomba ini adalah untuk mengenalkan kerajinan Indonesia pada masyarakat Belanda. tim Juri adalah orang-orang indonesia yang bermukim di Belanda. oleh karena itu, korespondensi dilakukan via internet.

Ipung yang menyadari adanya peluang bisnis dibalik penyelenggaraan lomba tersebut, bermaksud mengirimkan salah satu desainnya. namun, Ipung tidak mengetahui seluk beluk internet, padahal deadline penutupan pengiriman desain tinggal sedikit. untunglah Ipung mempunyai seorang kenalan yang mengelola warung internet dikampungnya. melalui tokoh ini (Dini), ipung mempelajari bagaimana menggunakan internet.

Pada saat yang bersamaan, Gagah, pengrajin batik kayu lainnya, mengetahui niat Ipung untuk mengikuti lomba desain itu. Menyadari peluang bisnis dibalik itu, Gagah juga berniat untuk mengikuti lomba itu. Gagah memiliki masalah yang sama dengan Ipung, tidak tahu seluk beluk internet. namun Gagah memilih untuk menggunakan jalur konvensional (mengirim desain via pos, mencari informasi via telpon dll) ketimbang belajar menggunakan belajar menggunakan internet. Gagah bahkan memandang sinis terhadap apa yang dilakukan oleh Ipung. akibat kesombongannya, gagah harus mengelluarkan uang dan tenaga yang lebih banyak ketimbang Ipung (tagihan telpon melonjak, effort ke kantor pos, dll).

tak berapa lama, pengumuman hasil lomba desain telah keluar. lomba desain itu dimenangkan oleh Ipung. sebagai dampaknya, ipung kebanjiran order dari luar negeri. sebaliknya, gagah yang gagal meraih juara harus menerima kenyataan pahit. usaha batik kayu yang dikelolanya menjadi sepi karena order yang datang hanya berskala kecil.