sinopsis

IVA adalah salah satu staf di Dinas Pekerjaan Umum. ia bekerja di bagian perawatan dan pemeliharaan saluran air di kotanya. tugas utamanya adalah mengecek sistem pembuangan limbah yang disalurkan melalui pipa-pipa pembuangan limbah dan saluran-saluran utama pembuangan limbah. tujuannya agar sistem pembuangan limbah berjalan lancar sehingga tidak terjadi penumpukan sampah yang bisa mengakibatkan banjir.

IVA tinggal sendirian dirumah orang tuanya. seluruh keluarganya hilang, hanyut terbawa banjir bandang yang melanda kotanya. saat itu, IVA mendapat tugas untuk mengikuti sebuah pertemuan di luar kota. oleh karena itu, IVA selamat dari banjir tersebut. peristiwa buruk ini sangat mempengaruhi kinerja Iva selanjutnya. ia merasa bahwa apa yang dikerjakannya sia-sia, karena pada akhirnya orang-orang yang ia cintai hilang terbawa air. padahal tugas utamanya di kantor adalah untuk mencegah agar hal itu tidak terjadi. tak heran jika Iva kemudian merasa putus harapan, bahkan tidak mau lagi mengerjakan tugasnya.

ditengah keputusasaannya, Iva bertemu dengan teman kuliahnya, Aji. dari teman kuliah ini, Iva menyadari bahwa bencana banjir bisa di prediksi melalui GIS. semangat iva pun bangkit kembali. ia kemudian mempelajari seluk beluk GIS, dari teman kuliahnya ini. Dari demonstrasi yang dilakukan oleh Adjie, Iva menyadari bahwa ada cara lain untuk memberitahu masyarakat mengenai kemungkinan-kemungkinan banjir. ia pun makin semangat untuk mempelajari GIS dan menampilkannya di internet.

pada saat yang bersamaan, Kelik, salah seorang staf di sebuah lembaga swasta (?), juga mempunyai informasi yang serupa dengan Iva. ia bermaksud untuk menjual data dan informasi tersebut pada beberapa orang. upaya yang dilakukan oleh kelik akhirnya gagal karena Iva berhasil meng-up load peta rawan banjir di internet. Apa yang dilakukan Iva ini menyebabkan salah satu buyer yang dihubungi kelik, membatalkan permintaan. Kelik sangat marah dengan kejadian ini.

kesuksesan Iva dan Adjie dalam meng up load peta rawan banjir, kemudian dirayakan oleh kedua orang ini di sebuah kafe. di kafe ini, Adjie kemudian menyampaikan perasaannya pada Iva. Iva tidak memberikan jawaban, namun hanya tertunduk malu…