Pada bulan Juni 2003, pemerintah memberlakukan Undang-Undang Hak atas Kekayaan Intelektual (UU HAKI). Pemberlakukan UU ini dimaksudkan untuk memberikan perlindungan pada produk berbasis copyright seperti karya seni, industri buku, majalah, film, musik, acara televisi, software komputer, dan lain-lain. Sejak pertengahan tahun 1980-an industri berbasis copyright telah memberikan sumbangan yang sangat signifikan untuk perindustrian di Amerika . Dalam data terakhir yang dikeluarkan oleh IIPA (International Intellectual Property Alliance) tahun 2002 disebutkan bahwa kontribusi industri ini pada pendapatan kotor Amerika (GDP) adalah 791,2 miliar dollar AS atau 7,75% dari total GDP. Dari jumlah tersebut berarti bahwa industri ini lebih tinggi dari industri makanan, industri mesin, dan industri elektronik di Amerika. Dan jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam industri ini diperkirakan mencapai 127 juta orang. Posisi strategis industri berbasis copyright ini membuat pemerintah melakukan campur tangan dalam bentuk kebijakan yang memihak industri ini.
Namun pemberlakuan UU menimbulkan pro dan kontra. Pihak yang pro beralasan bahwa pemberlakuan UU ini akan merangsang kreativitas pencipta. Sedangkan kalangan yang kontra beranggapan bahwa UU ini akan menghambat upaya bangsa ini dalam mengejar ketertinggalan, khususnya dalam bidang teknologi. Pemberlakukan UU ini dikhawatirkan akan membuat bangsa Indonesia semakin jauh tertinggal dengan bangsa lain. Dalam sebuah diskusi di mailing list Infolinux (HYPERLINK “http://www.infolinux.com/”www.infolinux.com) terungkap kekhawatiran tersebut. Konsekuensi dari pemberlakuan UU ini akan menimbulkan dampak makin tingginya harga perangkat teknologi informasi. Tingginya harga ini memberatkan konsumen, sehingga perkembangan teknologi tidak bisa diakses. Akibatnya, bangsa ini semakin tertinggal (www. infolinux.com, diskusi tanggal 19 Juni 2003).
Jika dicermati lebih jauh, pemberlakuan UU bisa dilihat dari sudut pandang kritis, yaitu bagaimana kekuatan pasar bisa mempengaruhi kebijakan negara dengan mengeluarkan aturan yang memberi perlindungan terhadap hak-hak tertentu. Dalam paper ini, ketidakberdayaan negara terhadap kekuatan pasar dianalisis melalui industri berbasis copyright, yaitu sistem operasi atau software komputer. Paper ini bermaksud menunjukkan perbedaan sistem dua sistem operasi komputer, Microsoft dan Linux.

Perbedaan Micrososft dan Linux: Sistem Tertutup vs Sistem Terbuka
Bagian ini menjelaskan tentang beberapa perbedaan mendasar Microsoft dan Linux. Microsoft menerapkan sistem sentralisasi dalam keseluruhan aktivitasnya dan memusatkan kekuasaan pada Bill Gates. Microsoft merahasiakan bagian inti dari software yang disebut source code dengan berlindung di bawah copyright. Microsoft menjadi sebuah perusahaan piranti lunak yang multinasional dengan sistem tertutup.
Sedangkan Open Source/Linux menerapkan sistem desentralisasi dengan menyebarkan pengetahuan pada seluruh anggota komunitasnya melalui internet. Source code Linux bisa dilihat secara lengkap oleh siapapun sehingga Linux menjadi sebuah proyek kolaborasi yang dikembangkan oleh puluhan ribu programmer di seluruh dunia, bekerjasama menjadi sebuah organisasi jaringan terdesentralisasi (desentralized network organisation).Linux tidak menerapkan copyright tapi copyleft

Microsoft: Lisensi Privat dan Copyright
Saat ini, hampir sebagian besar pengguna komputer maupun internet memakai sistem operasi Microsoft, khususnya Windows untuk menjalankan perintah penggunanya. Sistem operasi yang selalu dipromosikan user-friendly ini mengakrabi para penggunanya sejak tahun 80-an. Sistem operasi ini dengan cepat menjadi bagian dari pengguna komputer, bahkan menjadi icon tersendiri. Sehingga ketika orang menyebut komputer, yang terbayang dibenak adalah sistem operasi Microsoft.
Selain user-friendly, kelebihan yang dijanjikan sistem operasi atau aplikasi Microsoft adalah efektifitas dan efesiensinya yang tinggi. Sistem operasi ini dirancang oleh para programer agar komputer bisa dijalankan hanya dengan pencetan mouse. Pengguna tidak perlu bersusah payah mengingat dan mengetik perintah (command) kepada komputer karena sistem operasi ini telah menyediakannya dalam tampilan yang atraktif. Tak perlu takut salah, karena ada sistem un-do (ctr+z) untuk mengulangi perintah yang lalu, jika ternyata perintah yang baru tidak sesuai dengan keinginan kita.
Efektifitas dan efisiensi yang tinggi dalam berbagai literatur dianggap sebagai syarat masyarakat modern. Max Weber menyebutkan bahwa birokrasi adalah perwujudan dari organisasi yang paling efektif dan efisien yang pernah ditemukan manusia . Untuk itu, kebutuhan akan sarana yang bisa meningkatkan efektifitas dan efisiensi kerja mutlak diperlukan.
Inilah kekuatan terbesar yang dengan jeli dilihat Bill Gates –pendiri Microsoft- sebagai peluang (HYPERLINK “http://www.microsoft.com/”www.microsoft.com). Gates berhasil menjadikan PC sebagai alat peningkatan efektifitas dan efisiensi kerja. Dari total penggunaan komputer di Indonesia (kurang lebih 700 ribu pada kuartal 2003 ), 90 % diantaranya menggunakan Microsoft sebagai sistem operasi atau aplikasi mereka. Hanya sedikit yang menggunakan sistem operasi lain seperti Linux, Macintosh, dan lain sebagainya.
Penggunaan Microsoft berkembang dari keperluan rumah tangga hingga keperluan militer. Sistem aplikasinya sangat bervariasi dan dipakai oleh sebagian besar masyarakat. Sistem operasi atau aplikasi yang paling populer adalah Windows dengan berbagai versi, misalnya Windows 3.11, 3.12, 95, 98, Millennium Edition, NT, 2000, dan XP.
Secara periodis, Microsoft mengeluarkan versi terbaru mereka. Biasanya, dalam versi terbaru sebuah software , terdapat peningkatan fasilitas yang tidak ditemui pada versi lama. Misalnya pada Windows 95, belum ada fasilitas koneksi antar komputer. Ini disempurnakan pada Windows NT yang memang ditujukan bagi jaringan antar komputer. Peningkatan fasilitas ini biasanya berpengaruh pada spesifikasi komputer. Untuk menjalankan Windows 3.11, dibutuhkan komputer dengan kecepatan 32 Mb/RAM, kapasitas memory kecil, prosesor 486x. sekarang, untuk bisa menjalankan Windows NT, dibutuhkan komputer dengan kecepatan minimal 128 Mb/RAM, kapasitas memory minimal 20 Gb, prosesor Pentium IV. Jika tidak, jangan harap sistem tersebut bisa dijalankan dengan maksimal.
Untuk bisa selalu memperbarui versi software mereka, dibutuhkan programer dengan kualifikasi tinggi. Microsoft mempekerjakan programer dengan kualifikasi tinggi dan bekerja dalam tim kecil. Tim inilah yang bertugas mengembangkan software baru.
Microsoft bekerja dengan sistem sentralisasi, mulai dari sisi lokasi dimana aktivitas dilakukan sampai dengan proses pengambilan keputusan . Sebagian besar aktivitas dilakukan di Redmond Seattle. Sistem sentralisasi dalam perusahaan ini menyebabkan seluruh aktivitas terpusat pada sosok Bill Gates. Bill Gates-lah pengambil keputusan dalam perusahaan ini. Ia juga yang menentukan kapan sebuah software boleh diluncurkan kepada publik.
Keputusan mengenai kapan sebuah software diluncurkan adalah sebuah keputusan yang penting bagi Microsoft. Sebuah software harus sempurna, sehingga setelah diluncurkan tidak ada komplain dari konsumen. Ini artinya, dibutuhkan kerja keras dan dedikasi tinggi. Oleh sebab itu, Bill Gates lebih suka mempekerjakan karyawan dalam jumlah sedikit dengan kualifikasi tinggi. Hal ini dikarenakan, kesempurnaan sebuah software menuntut koordinasi (atau lebih tepat kontrol) yang baik. Dalam kerangka ini kontrol hanya dapat dilakukan dalam kelompok kecil.
Bill Gates memberi contoh bagaimana sikap kerahasiaan dan persaingan harus dikembangkan agar software yang dikembangkan tidak ‘dicuri’ oleh kompetitor . Kompetitor yang dimaksud adalah sesama programer dalam lingkungan perusahaan Microsoft sendiri maupun dari perusahaan rival. Sikap ini oleh Bill Gates dibudayakan menjadi sebuah kultur yang akhirnya melahirkan sikap yang arogan.
Kerahasiaan sumber kode dan kesempurnaan sebuah software pada akhirnya berujung pada kebutuhan untuk melindungi hasil dari sebuah karya. Dalam hal ini, sebagaimana produsen lain, Microsoft menerapkan hak cipta atau copyright bagi seluruh produk mereka. Ini penting karena dengan adanya copyright , roda bisnis Microsoft bisa berputar.
Linux : Lisensi Publik dan Copyleft
Kisah open source community (OS) dimulai saat Linus Torvalds mengembangkan sistem operasi Linux pada tahun 1991 . Sebagai mahasiswa ilmu komputer Universitas Helsinki, Linus merasa pilihan sistem operasi yang ditawarkan pada saat itu sangat terbatas. Meski ia sangat tertarik pada program UNIX namun ia merasa bahwa untuk bisa menjalankannya di rumah, dibutuhkan biaya yang sangat besar dan perangkat yang mahal. Atas dasar itulah, ia kemudian mengembangkan sistem operasinya sendiri.
Linus berhasil mengembangkan UNIX menjadi sistem operasi yang murah. Namun kisah keberhasilan Linus tersebut semakin menggema ketika ia bekerja sama dengan Richard Matthew Stallman. Penemuan Stallman yang paling penting adalah saat ia mengembangkan proyek bernama GNU (GNU’s Not Unix) (DafermoS, 2001). Peneliti di Massachusttes Institute of Technology Amerika Serikat ini hanya punya satu tujuan, membuat proyek perangkat lunak di mana orang-orang tidak perlu membayar untuk menggunakannya (Kompas, 2003).
Pada tahun 1984, Stallman memulai proyek GNU sebagai alternatif sistem operasi UNIX dan setahun berikutnya mendirikan Free Software Foundation (FSF). Untuk memastikan agar GNU tidak menjadi software yang tertutup, Stallman menciptakan GNU General Pulic Lisence (GNU GPL) (Dafermos, 2001). GNU GPL menekankan distribusi sumber-sumber kode yang telah di “copyleft” dengan bimbingan dari FSF. Sistem operasi Linux berada dibawah lisensi GNU, sehingga orang sering menyebutnya GNU/Linux.
Sejak saat itu, banyak pihak menggunakan GNU/Linux sebagai sistem operasi mereka. Perguruan tinggi menggunakannya sebagai media pendidikan. Kalangan bisnis menggunakannya karena sistem operasi ini lebih murah daripada yang lain. Saat ini OS telah menjadi bagian dari pengguna komputer dan internet di seluruh dunia. Perkiraan pengguna Linux berdasarkan survei yang dilakukan Linux International saat ini mencapai kurang lebih 8 juta pengguna (www.counter.li.org). Ragam program/software OS sangat banyak. Ini memungkinkan orang untuk memilih program/software mana yang paling sesuai dengan kebutuhannya. Bahkan jika tidak puas dengan pilihan yang ada, dipersilakan untuk mengembangkan sendiri.
OS pada dasarnya bekerja dengan sistem desentralisasi. Ini tecermin dalam keseluruhan proses pengembangan software atau sistem operasi baru. Salah satu alasan kenapa OS bisa berhasil adalah adanya sebuah komunitas yang mendukung proses penyebaran pengetahuan (distributed knowledge). Penyebaran pengetahuan ini bertujuan untuk mendistribusikan pengetahuan ke sebanyak mungkin orang yang tepat. Jika proses penyebaran pengetahuan ini disebarkan melalui media yang tepat, efeknya akan sangat dahsyat. Apalagi jika ditambah dengan minimnya nilai ekonomi yang melekat atau yang harus dikeluarkan pada pengetahuan tersebut.
GNU/Linux bekerja dengan cara tersebut. Pertama-tama, para programer menyebarkan kode-kode program/software . Dengan bantuan internet, mereka mempublikasikan penemuan mereka meski mungkin penemuan tersebut belum sempurna. Publikasi di internet ini sangat penting karena dari disitulah interaksi antara penemu dengan komunitasnya dilakukan. Programer lain yang tertarik dengan penemuan tersebut dapat melakukan perubahan, untuk kemudian mempublikasikan kembali perubahan yang telah dilakukan. Demikian seterusnya. Aktivitas itu dilakukan tanpa biaya, dan dengan suka rela. Programer yang tertarik, tinggal mendownload dari internet.
Sebagai sebuah komunitas yang terbuka, OS community adalah komunitas belajar bersama. Dalam komunitas ini, semua pihak yang terlibat mempunyai kedudukan yang sama. Proses belajar bersama ini dapat berjalan tanpa ada yang merasa direndahkan atau ditinggikan. Tidak ada posisi superior atau inferior. Bahkan posisi programer penemu sebuah program/software tidak lebih tinggi dari programer yang lain. Kesetaraan posisi ini menyebabkan proses penyebaran pengetahuan dapat berjalan tanpa hambatan. Siapapun bisa berpartisipasi dalam penyebaran pengetahuan melalui ruang-ruang yang memang diciptakan untuk itu. Forum diskusi melalui internet dalam ribuan mailing list menjadi andalan komunitas ini untuk saling berinteraksi dan berkomunikasi. Diskusi dilakukan tanpa pamrih apapun kecuali kebebasan menyebarkan pengetahuan .
Selain kesetaraan, komunitas OS berkembang dalam semangat kerja sama yang tinggi. Untuk membangun komunitas yang sebesar ini, diperlukan kerja sama yang berujung pada rasa saling percaya (mutual trust). Rasa saling percaya ini penting agar komitmen untuk menjaga sumber-sumber kode tetap terbuka, terpelihara. Namun rasa saling percaya ini tidak mematikan kreativitas para anggota komunitas ini. Meski keputusan akhir layak tidaknya sebuah program di luncurkan berada di tangan Linus, namun proses pengambilan keputusan dilakukan sangat transparan. Linus tidak bisa menerapkan sistem otoritarian dalam pengambilan keputusan karena keseluruhan proses dipublikasikan dan diketahui oleh anggota komunitas.
Hal penting yang dilakukan oleh komunitas ini adalah penyerahan lisensi atau hak cipta pada publik melalui GPL. Ini mengartikan bahwa siapapun diperbolehkan untuk mengambil seluruh atau sebagian dari sebuah sistem operasi atau software dengan menyertakan nota hak cipta. Hal ini penting karena dengan demikian, OS community menyerahkan pengetahuan kepada publik dan memberi kebebasan bagi publik untuk menggunakannya sesuai kebutuhan.

Linux vs Microsoft: Penciptaan Ruang Publik yang Bebas Dominasi
Dalam bagian ini, sentralisasi Microsoft dan desentralisasi Open Source/Linux dimaknai dalam kerangka pemikiran Mahzab Frankfurt, khususnya Jürgen Habermas. Sentralisasi Microsoft dimaknai sebagai bentuk rasionalitas instrumen yang dilakukan dalam jebakan efektifitas dan efisiensi kerja software -software nya. Sementara desentralisasi open source/Linux dimaknai sebagai upaya manusia untuk membebaskan diri dari dominasi, yaitu dengan menciptakan ruang-ruang publik yang bebas dari dominasi.

Dominasi Microsoft: Jebakan Rasionalisasi Instrumen
Masyarakat dalam kapitalisme mutakhir, mengacu pada Mahzab Frankfurt adalah masyarakat yang dikuasai rasio teknologis . Segala sesuatu diterima sejauh ia bisa dikuasai, direkayasa, digunakan, diperalat dan dimanipulasi , kata kuncinya adalah instrumental. Rasio ini bersifat totaliter dan tertutup. Totaliter artinya menghinggapi semua bidang kehidupan, mulai dari politik, ekonomi sampai sosio-kultural. Tertutup artinya hanya menolerir perubahan yang tidak mengharuskan perombakan total.
Menurut Marcuse , industrialisasi merupakan perwujudan ideal dari kerja yang berkerangkakan rasio instrumental. Ia digerakkan oleh rasio cost-benefit yang ketat. Ketika industrialisasi berhasil, ia tidak lagi mengakui rasio jenis lain tapi memprioritaskan tempat bagi satu jenis rasio saja, yaitu rasio instrumental. Rasionalitas nilai pelan-pelan disubordinir, ditaklukkan dan dilucuti jadi perangkat legitimasi sekunder.
Makna terpenting dari teknologisasi masyarakat adalah kemampuannya meredam konflik. Perbedaan pendapat, keinginan, penawaran dan permintaan disatukan dalam satu kepentingan, yaitu kebutuhan untuk mempertahankan dan meningkatkan hasil industri. Sementara tuntutan kebebasan dari masyarakat, hanya sebatas apa yang ditawarkan oleh para industrialis, bukan keinginan murni masyarakat .
Dari sudut pandang ini, negara –dalam hal ini dukungan kebijakannya- digunakan untuk mempertahankan stabilitas keberlangsungan proses produksi industrial. Dalam kasus ini, UU HAKI digunakan untuk menjaga agar kestabilan distribusi software dapat berjalan lancar. Sementara keinginan dan tindakan riil masyarakat untuk memperoleh software murah, tidak diakomodasi oleh negara. Misalnya dalam kasus pengembangan jaringan internet berbasis rumah tangga, atau layanan telepon berbasis internet melalui aplikasi VoIP (Voice over Internet Protocol). Dalam dua kasus tersebut, negara menganggapnya sebagai ancaman terhadap kestabilan perekonomian dan kemudian melarang penggunaan dua aplikasi berbasis open source community tersebut. Ujung-ujungnya, pemerintah memberikan hak istimewa pada sejumlah perusahaan untuk menyediakan jasa tersebut (Kompas, 2003).
Dibalik berbagai kelebihan yang ditawarkannya Microsoft menjadi kekuatan yang mendominasi dan menciptakan ketergantungan para penggunanya.

Penerimaan begitu saja masyarakat modern pada kebenaran rasionalitas instrumental menurut Marcuse disebut masyarakat satu dimensi (one dimensional man) . Masyarakat ini ditandai oleh hilangnya dimensi kritis dan resistensinya terhadap lingkungan yang represif. Prestasi-prestasi industrial telah membutakan mata masyarakat dan menghilangkan sikap kritisnya. Maka ketika masyarakat internasional berteriak agar kekayaan intelektual harus dilindungi, pemerintah segera mengamininya dengan memberlakukan UU HAKI. Padahal, pemberlakuan UU ini dianggap sebagai upaya global (baca distributor Amerika) untuk mempertahankan akumulasi kapitalnya .

Open source community /Linux: Mewujudkan Kepentingan Emansipatoris
Jebakan rasionalitas instrumen dalam masyarakat modern ini menghambat terwujudnya kebebasan dalam arti sebenarnya. Keterbiasaan orang dengan sistem operasi Microsoft dalam setiap penggunaan komputer, menunjukkan ‘ketidakberdayaan’ masyarakat terhadap rasionalitas teknologis. Biaya instalasi yang murah (meski hanya mendapat software bajakan), kemudahan aplikasi dan penggunaan membuat masyarakat merasa bahwa satu-satunya aplikasi atau sistem operasi yang tersedia adalah Microsoft. Ini menutup kepada pemikiran program sistem operasi atau aplikasi alternatif lainnya. Padahal, selain Microsoft masih banyak sistem operasi lain yang lebih mencerdaskan.
Hambatan terhadap kebebasan ini menurut Habermas bisa diatasi dengan mendorong terciptanya sebuah kondisi dimana orang mampu berkomunikasi dengan bebas dari dominasi . Kondisi ini digerakkan atas dasar rasio yang melakukan refleksi diri dengan didorong oleh kepentingan untuk membebaskan diri dari kendala dari luar maupun dari dalam subyek pengetahuan. Kepentingan ini disebut kepentingan emansipatoris.
Dalam kerangka ini, kepentingan yang mendasari gerakan Open source community /Linux dapat disebut sebagai kepentingan emansipatoris. Semangat awal yang mendasari Stallman mengembangkan GNU dan GNU GPL adalah kegelisahan atas dominasi yang dilakukan oleh Symbolic kepada para karyawannya yang notabene adalah para peneliti Artificial Intellegence (AI) Laboratory di MIT . Penetrasi kapitalis melalui sistem upah telah mengubah cara pandang para peneliti di AI Lab dan menimbulkan hambatan komunikasi di antara sesama peneliti. Padahal semangat distribusi pengetahuan dan komunikasi yang bebas –lah yang mempesona Stallman. Kacaunya keadaan di AI Lab tersebut membuat Stallman memutuskan untuk keluar dari Lab tersebut dan bertekad menyebarkan software dengan gratis.
Kondisi dimana komunikasi tanpa dominasi, menurut Habermas, dapat terwujud melalui diskusi rasional di antara-antara aliran-aliran dan pemikir-pemikir . Dalam setiap diskusi rasional, para peserta diskusi tidak semata-mata ingin menjatuhkan lawan, melainkan ingin menemukan kebenaran baik menyangkut pengetahuan maupun praksis. Kepentingan yang mengarahkan pada diskusi semacam ini adalah kepentingan untuk mencapai otonomi dan tanggung jawab.
Distribusi pengetahuan dalam open source community dilakukan melalui diskusi-diskusi rasional semacam ini. Diskusi dilakukan lewat internet, dalam ribuan mailing list. Pengembangan software atau sistem operasi open source yang baru, dikembangkan dalam sistem yang egaliter dan demokratis. Proses pengambilan keputusan tentang layak tidaknya sebuah software , dilakukan dengan transparan karena kronologi diskusi diketahui oleh publik. Bahkan Linus atau Stallman yang dianggap pendiri open source community, tidak bisa mengambil keputusan tanpa melibatkan ribuan programer yang bekerja sama membangun software atau sistem operasi baru .
Dalam open source community, diskusi dimaknai sebagai perwujudan kepentingan emansipatoris karena tidak ada pihak yang saling mendominasi. Otonomi dan tanggung jawab untuk mengembangkan free software menjadi semangat para pegiat komunitas ini.

Penutup
Tidak bisa dipungkiri, di masa datang, produk berbasis copyright akan memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Kebutuhan untuk mengukuhkan eksistensi diri manusia melalui kerja berbasis pengetahuan akan semakin meningkat seiring dengan peningkatan kualitas hidup manusia. Pada titik ini, kebutuhan untuk melindungi sumber-sumber pengetahuan menjadi penting dan menempati posisi yang strategis.
Globalisasi dan perdagangan bebas kemudian membuat siapapun melakukan berbagai macam cara agar bisa melindungi aset berharga ini. Isu demokrasi dan pasar bebas yang dihembuskan oleh negara-negara maju harus dilihat secara kritis, karena sering dijadikan alat untuk memberikan jaminan perlindungan terhadap produk berbasis copyright tersebut. Sebagaimana telah dijelaskan dimuka, kontribusi yang begitu besar dari produk ini membuat negara-negara maju dengan getol memperjuangkan pemberlakuan UU HAKI di negara-negara berkembang. Padahal jika dicermati lebih kritis, yang paling diuntungkan dengan adanya UU ini justru distributor. Sedangkan pencipta dapat dikatakan tidak memperoleh apa-apa. Konsumen apalagi. Mereka hanya mendapat biaya tinggi dari sebuah produksi dan -dalam paper ini- terjebak dalam rasionalitas instrumen.
Belajar dari pengalaman open source community, produk berbasis copyright khususnya software , dapat menjadi sarana untuk membuat manusia yang semakin rasional dan kritis . Manusia yang demikian adalah manusia yang mempunyai kepentingan emansipatoris.

Daftar Pustaka

Ritzer, George, Sociological Theory, 2000, The McGraw-Hill Companies, USA.
Dafermos, George N., Management & Virtual Decentralised Network: The Linux Project, 2001, tesis MA di Management of Durham Business School,United Kingdom. E- mail: HYPERLINK “mailto:georgedafermos@bungo.com”georgedafermos@bungo.com
Ignatius Haryanto, Mengurai Hak Cipta: Ketegangan antara Moda Produksi dan Moda Distribusi, Kompas, Jumat, 01 Agustus 2003
Learmonth, Michael., Giving It All Away, 2003. email: HYPERLINK “mailto:mikel@sjmetro.com”mikel@sjmetro.com
F. Budi Hardiman, Menuju Masyarakat Komunikatif, 1993, Kanisius, Yogyakarta.
Sopril Hamzah, Budaya Konsumsi dalam Masyarakat Kapitalis Mutakhir, 1999, skripsi tidak dipublikasikan, Jurusan Sosiologi Fisipol, UGM, Yogyakarta
Marcuse, Herbert., One Dimensional Man, Boston,:Beacon, 1964
Stallman, Richard, The GNU Operating System dan Free Software , 1999, dalam Ljungberg, Jan. Open Source Movements as a Model for Organizing, Viktoria Institute, Goteberg, Sweden, 2003

Situs:
HYPERLINK “http://www.kompas.com/”www.kompas.com
HYPERLINK “http://www.opensource.org/”www.opensource.org
HYPERLINK “http://www.gnu.org/”www.gnu.org
HYPERLINK “http://www.counter.li.org/”www.counter.li.org
HYPERLINK “http://www.infolinux.com/”www.infolinux.com
HYPERLINK “http://www.microsoft.com/”www.microsoft.com
HYPERLINK “http://www.pcmag.com/”www.pcmag.com

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Widya Mataram Yogakarta
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Kompas, 1 Agusuts 2001
George Ritzer, Sociological Theory, The McGraw-Hill Companies, 2000
PC Magazine, 2003
Dafermos, George N., Management & Virtual Decentralised Network: The Linux Project, 2001:27
Dafermos, 2001:50
Michael Learmonth, Giving It All Away, 2003. email: mikel@sjmetro.com
UNIX adalah sistem operasi komputer yang dikembangkan selama beberapa dekade. Mulai dikembangkan pada akhir tahun 60-an oleh Departemen Keamanan, perusahaan komputer IBM, penyedia jasa telekomunikasi AT&T, Universitas Berkely dan MIT. Sistem berkembang menjadi bahasa standar yang memungkinkan komputer saling berkomunikasi dan menjadikan internet mudah diakses oleh setiap orang. Bahasan lebih jelas lihat HYPERLINK “http://www.opensource.org/”www.opensource.org
Copyleft adalah menyebarkan sumber-sumber kode sebuah program/software, tanpa menghilangkan hak cipta penemu (programer) awalnya. Programer lain sangat diperbolehkan oleh menambah, merevisi, mengurangi atau melakukan aktivitas apapun dalam program/software tersebut, sepanjang ia mencantumkan sumber kodenya. Dengan demikian kode-kode program/software tetap bebas dan terbuka, sejarah (history) sebuah program /software dapat diketahui oleh publik. Ini menyebabkan program atau software sulit untuk diubah menjadi program/software yang tertutup. Lebih lengkap lihat di HYPERLINK “http://www.gnu.org/”www.gnu.org.

Stallman dalam The GNU Operating System dan Free Software, 1999, mengatakan bahwa: “free software is nothing to do with price, but with rights”. Lebih jauh ia mengatakan: “You have the freedom to run the program, for any purpose; you have the freedom to modify the program to suit your needs; you have the freedom to redistribute copies, either for free of charge or for a fee; you have the freedom to distribute modified versions of the program, so that the community can benefit from your improvements”(Stallman, 1999, cetak tebal oleh penulis).
F. Budi Hardiman, Menuju Masyarakat Komunikatif, 1993, Kanisius, Yogyakarta.
Sopril Hamzah, Budaya Konsumsi dalam Masyarakat Kapitalis Mutakhir, 1999, skripsi tidak dipublikasikan, Jurusan Sosiologi Fisipol, UGM, Yogyakarta
Herbert Marcuse, One Dimensional Man, Boston,:Beacon, 1964
Sopril, 1999
Marcuse, 1964
Ignatius Haryanto, Mengurai Hak Cipta: Ketegangan antara Moda Produksi dan Moda Distribusi, Kompas, Jumat, 01 Agustus 2003

Hardiman, 1991:34

pada tahun 1971, AI Lab dianggap surga bagi sebagian besar programer komputer yang memungkinkan tumbuhnya inovasi baru dalam perkembangan ARPA net. ARPAnet adalah cikal bakal internet yang dibangun untuk menghubungkan komunitas programer komputer dalam rangka distribusi program dan pengetahuan mereka. Kultur yang tercipta dalam komunitas ini adalah kebebasan untuk saling bertukar informasi dan kerja sama yang pada akhirnya mempercepat inovasi baru. Pada 1981, sebuah perusahaan bernama Symbolic menyewa seluruh peneliti di AI Laboratory dan memperkenalkan sistem upah sebagai penghargaan dari software yang mereka kembangkan. Sistem kerja ini sangat bertentangan dengan semangat para hacker di AI Lab, karena dengan adanya sisitem ini, sumber kode diproteksi sebagai suatu suatu rahasia. Lebih jauh lihat Dafermos, 2001: 19, Stallman, 1999:45.
Hardiman, 1993:34
Dafermos, 2001: 24
Hardiman, 1993, 35

PAGE \*ARABIC 14