poster film Harry Potter
Setelah melewati perjuangan yang keras selama tiga (3) minggu, akhirnya saya dan teman saya Biduk berhasil juga nonton film Harry Potter and The Order of Phoenix.

Perjuangan keras karena setiap hari senin selama tiga minggu saya nongkrongin studio 21 Amplaz Yogyakarta dan selalu gagal kerena berbagai sebab. Minggu pertama gagal karena kami keder melihat antrian yang mengular sampai keluar studio. Minggu kedua saya pulang karena sangat PD dengan kekuatan debit BCA dan tidak menyiapkan uang tunai. Setelah antri cukup lama, ternyata kami baru tahu kalau debit BCA tidak berlaku untuk hari senin. Minggu ketiga, kami datang pagi-pagi dan alhamdulillah berhasil.

Aniwei, film ini cukup bagus, meski banyak yang tidak sesuai dengan imajinasi saya. Kesan pertama saya adalah too much stripe in this movie. Entah karena sedang ngetren atau alasan lain, kostum yang paling banyak muncul dalam film ini adalah kaos bergaris-garis. saya melihat Hermione, Ron, Fred, George dan beberapa yang lain sangat sering menggunakan kostum bergaris. bahkan ada satu adegan diman ron dan Hermione sama-sama mengenakan kaos bergaris meski dalam warna yang berbeda. Entahlah.. buat saya pemilihan kostum ini sedikit mengganggu, terutama karena Hermione termasuk keularga yang mampu. Menurut saya, dia cukup mampu mengenakan pakaian yang berbeda dari teman-temannya alias tidak terlalu mengikuti mode yang pasaran. untuk keluarga Weasley, saya masih bisa menerimanya karena latar belakang keluarga tersebut yang ‘pegawai negeri yang jujur dan bersih’.

Dari sisi cerita, saya merasa film ini kurang banyak mengeksplorasi perasaan marah Harry. Ketika membaca buku ini, saya merasa bahwa kondisi psikologis harry dari awal cerita hingga akhir adalah perasaan marah dan kesal. Harry marah karena dia tidak mendapat informasi apapun selama liburan musim panasnya. Ia marah karena Dumbledore tidak mau berhubungan dengannya secara langsung. Ia marah karena dituding gila dan dijauhi oleh komunitas penyihir karena menyatakn bahwa Voldermot telah kembali. dalam buku itu, ada beberapa bagian yang menceritakan kemarahannya. Di bagian awal ketika ia dihina oleh Dudley yang berujung pada kehadiran Dementor. kemudian ketika harry tiba di grimlaud Place dan bertemu dengan hermione dan ron untuk pertama kalinya sejak liburan musim panas. lalu saat Harry, Hermione dan Ron berkumpul di common place asrama Gryffindor. lalu dibagian akhir ketika Dumbledore menceritakan alasan kenapa dia menghindari Harry selama tahun itu.
cover buku the oder of the phoenix

Kondisi psikologis itu tidak saya tangkap dalam film ini. Mungkin karena kemampuan akting pemeran harry yang kurang bisa mengeksplorasi sisi ini. mungkin karena tuntutan durasi waktu film yang terbatas, saya tidak tahu. Tapi hal ini cukup membuat saya sedikit kecewa.

selain kondisi psikologis, yang cukup mengganggu adalah perbedaan cerita di dibuku dengan di film. dalam buku diceritakan bahwa pengkhianat yang membocorkan rahasia tentang adanya laskar Dumbledore adalah marieta (lupa namanya, ntar di cek lagi), teman akrab cho chang. dalam film, digambarkan bahwa pengkhianatnya adalah cho chang itu sendiri. menurut saya, ini juga cukup mengganggu alur cerita karena dalam buku dikisahkan bahwa sebelum pengkhanatan tersebut, hubungan cho dengan harry sedang tidak akur. pasca pengkhianatan, hubungan mereka kembali akur dan mesra. dalam film, sebaliknya. sebelum pengkhianatan, harry-cho adalah pasangan yang mesra. tapi pasca kejadian itu, cho bahkan dimusuhi oleh seluruh laskar. dan cho juga tidak secantik imajinasi saya…

Lainnya, tokoh antagonis yang cukup penting tapi kurang penjiwaan adalah Dolores Jane Umbrige atau Wakil Perdana Mentri Sihir. dalam buku saya membayangkan bahwa Umbrige adalah orang yang sebenarnya cukup kejam, tapi ditutupi oleh senyumnya yang licik dan dandanannya yang serba pink. Rowling menggambarkan Umbrige seperti seekor kodok yang memakai kacamata besar hingga menutupi sebagian besar wajahnya. . dalam film ini, saya kurang bisa menangkap kesan kodok dari pemeran Umbrige. justru saya merasa bahwa Umbrige terlalu keibuan dan penuh kasih sayang. sehingga kesan licik, galak dan kejam kurang tereksplorasi.

Yang paling sesuai dengan imajinasi adalah pemeran Snape. menurut saya, tokoh ini dimainkan dengan bagus dan konsisten sejak pertama sekuel film ini dibuat. Snape cukup bisa menghadirkan kebencian dan dendam sekaligus pemujaan. Setidaknya saya bisa menangkapnya dari intonasi suara dan mimik muka snape yang cukup dingin. not bad at all.

oia, satu lagi yang cukup menghibur saya adalah gambaran mengenai lorong di Departemen Misteri yang selama berbulan-bulan diimpikan Harry. Penggambarannya cukup membantu saya, meski menurut saya masih kurang gelap dan menakutkan.

Anyway, saya sangat memahami sulitnya menerjemahkan khayalan Rowling (dan pembaca) ke dalam bentuk audio visual. masing-masing orang memiliki gambaran, imajinasi bahkan khayalannya sendiri. ketika saya membaca gambaran tentang Dementor, saya membayangkan sosok yang sangat menakutkan, melayang-layang dengan bau yang busuk. saya membayangkan hal paling menakutkan dalam hidup saya dan itulah dementor. Saya sedikit terhibur karena penggambaran dementor di film dan di buku cukup sama. Namun, seperti yang sudah saya ulas diatas, masih banyak yang tidak sesuai dengan khayalan saya. Maka tak heran jika banyak film yang berbasis cerita novel yang gagal dipasaran karena kesulitan itu. Selain itu, dari sisi penulisan naskah, Harry Potter adalah cerita dengan multi karakter. meski tokoh utamanya hanyalah harry, namun tokoh-tokoh disekeliling Harry cukup banyak dan saling berkaitan. oleh karena itu, cukup sulit untuk membagi proporsi karakter dalam film termasuk untuk mengeksplorasinya.

Akhir kata, saya memberi 3 bintang untuk film Harry Potter and the order of Phoenix. Setidaknya, ada David Radcliff yang guanteng dan cuakep dan enak dilihat ^_^…