*Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Pantau Tahun II Nomor 015 – Juli 2001*

Namanya mulai dikenal ketika ia mengumumkan hasil analisis keabsahan suara Jaksa Agung Andi Muhammad Ghalib dengan Presiden B.J. Habibie kala itu. Majalah Panji memuat transkrip percakapan keduanya. Isinya Habibie secara halus minta Ghalib bersikap lunak terhadap Soeharto, diktator Orde Baru dan mentor Habibie itu.

Ghalib membantah itu suaranya. Tapi Habibie secara tak langsung mengakui adanya pembicaraan itu. Roy Suryo tergelitik. Roy melakukan analisis dengan menggunakan audio spectrum analyzer, sebuah piranti lunak yang mampu mengidentifikasikan suara. Ini dilakukan dengan membandingkan suara rekaman dengan suara asli. Hasilnya, suara itu identik dengan suara Habibie dan Ghalib.

Pada Agustus tahun yang sama, beredar lagi transkrip rekaman pembicaraan beberapa orang penting. Suara-suara itu di antaranya mirip suara Arnold Baramuli, ketua Dewan Petimbangan Agung, menteri kabinet Tanri Abeng, wakil bendahara Partai Golkar merangkap debt collector Setya Novanto, dan rekannya Djoko S. Tjandra, pengusaha hotel yang juga menawarkan jasa penagihan utang.

Dalam pertemuan itu, Golkar dituduh mendapat dana Rp 50 miliar dari Bank Bali sebagai imbalan atas peran orang-orang ini dalam rekapitalisasi bank itu. Mereka membantah. Pemeriksaan negara untuk menyelidiki kasus Bank Bali juga dianggap tak tuntas. Roy melakukan analisis. Dengan menggunakan piranti lunak yang sama, Roy mendigitalkan rekaman tersebut dan hasilnya memperkuat laporan majalah Gamma, majalah yang pertama kali menurunkan transkrip rekaman.

Wartawan pun berlomba-lomba mewawancarai Roy Suryo dari SCTV, majalah D&R, majalah Forum. Undangan jadi pembicara mulai berdatangan.

Kiprahnya kembali mencuat ketika dia menganalisis foto kontroversial Aryanti Sitepu dan Abdurrahman Wahid. Foto itu memperlihatkan Sitepu, yang mengatakan dirinya bekas kekasih orang nomor satu Indonesia itu, duduk di pangkuan Wahid. Kali ini Roy menggunakan piranti lunak Adobe Photoshop untuk menunjukkan tidak ada rekayasa dalam foto itu.

Juni ini Roy mengatakan kenaikan tarif telepon 2.796,7 persen, bukan 21,7 persen seperti yang dikatakan pemerintah.
Ketertarikan Roy Suryo terhadap teknologi sudah terlihat sejak duduk di bangku sekolah dasar di Yogyakarta. Roy kecil gemar mengutak-atik mobil-mobilan. “Bisa bongkar, tapi nggak bisa pasang,” kenang Yayik Suryo, kakak perempuan Roy.

Roy kecil mempunyai cita-cita jadi sopir bus. Berdua dengan adiknya, Roy menamai mobil mainan mereka. “Kita punya mobil untuk presiden, mobil menteri, bus sekolah … pokoknya lengkap,” kenang Dony Suryo.

Ketika meneruskan pendidikannya di sekolah menengah pertama, ketrampilan Roy dalam bidang elektronika mulai tampak. Di sekolah ia mengikuti kegiatan ekstrakurikuler elektronika. Ia sering membetulkan peralatan elektronik milik ibunya yang rusak. Di sekolah menengah atas, Roy ikut Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia atau biasa disebut Orari. Berdua dengan kakak sulungnya, Sony, Roy mulai mengutak-atik peralatan komunikasi radio itu.

Ketika lulus, berbekal minat dan bakat, Roy bertekad mencari ilmu yang lebih dalam di jurusan teknik elektro Universitas Gadjah Mada. Dalam formulir pendaftaran, Roy memilih jurusan teknik elektro sebagai pilihan pertama dan komunikasi, pilihan kedua. Pertimbangan Roy, di jurusan komunikasi ia akan belajar hal yang kurang lebih sama dengan jurusan teknik elektro.

Roy ternyata gagal masuk jurusan elektro. Tapi dia diterima di jurusan komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik pada 1986. Ini dua jurusan yang sama sekali berbeda. Satu teknik, satunya ilmu sosial. Pada masa awal kuliah, Roy tidak kerasan. Ia tak dapat memahami materi kuliah. Ujian semesternya jeblok.

Baru pada semester berikutnya, Roy menemukan asyiknya kuliah. Ia makin rajin dan nilainya menanjak. Di sana pula ia menemukan keasyikan lain: pacaran dengan Ismarindayani, seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, nama panggilannya Ririen.

Ririen juga kelahiran Yogyakarta pada 11 Desember 1967. Mereka berteman sejak sekolah menengah atas. Mulanya Ririen jadi anggota The Unisi Family, sebuah organisasi anak muda milik radio Unisi 104,75 MHz. “Kita baru mulai pacaran itu tahun 1987, jadi menginjak tahun ke dua kuliah,” kata Ririen. Pasangan ini menikah sesudah pacaran tujuh tahun.

Ririen menilai Roy memperlakukan dirinya dengan protektif. Roy selalu mengantar dan menjemput Ririen sewaktu kuliah. Kini, setiap pagi, jika tidak sedang ke luar kota, Roy mengantar Ririen ke kantor. Selepas mengantar, Roy melanjutkan aktivitasnya. Malam hari barulah mereka bertemu kembali. Kesibukan ini, menurut Ririen, menjadi salah satu penyebab mereka belum juga dikaruniai keturunan, “Harapan kami tahun ini kami dikasih momongan.”

Untuk mengantar atau menjemput istrinya, Roy tinggal memilih mobil mana yang akan ia pakai. Roy senang mengoleksi mobil kuno. Ia menyukai Mercedes Benz.

“Mobil itu semakin kuno semakin bernilai seni dan bercita rasa. Orang gampang aja, punya uang terus beli mobil baru. Nggak ada seninya,” ujar Roy.

Ketika saya tanya ada berapa koleksinya, Roy menolak menyebutkan jumlah, “Nggak enak. Nanti saya dikira sombong. Tapi saya sebutkan tahunnya saja, ya?” seraya mengumandangkan sederet tahun: 1958, 1961, 1963, 1965, 1967, 1972, dan 1982.

Saat ini Roy mengajar di Universitas Gadjah Mada dan Institut Seni Indonesia. Di kedua perguruan tinggi tersebut, Roy mengajar mata kuliah fotografi yang juga salah satu kegemarannya. Pada 1996 dia sering mengikuti lomba foto. “Kalau tidak nomor satu, ya nomor dua,” katanya. Roy juga mengirimkan karya fotonya ke harian Kompas. Meskipun sempat ditolak 11 kali, Roy tidak putus asa. Pada kiriman ke-12 karyanya dimuat.

Seperti kebanyakan dosen Indonesia, Roy juga mengajar di tempat lain, tepatnya Institut Seni Indonesia. Pada Juli 1998, Roy meraih juara kedua pemilihan dosen teladan Fakultas Seni Media Rekam di sana. Memang Roy termasuk dosen yang disukai mahasiswanya. Kuliah-kuliah Roy penuh sesak. Kebanyakan dari mereka ingin tahu benda apa yang dibawa Roy ke ruang kelas. Koleksi kamera Roy sangat banyak. Ia sering membawa kamera kuno hingga kamera paling mutakhir. Dengan cara itu mahasiswa benar-benar tahu kelebihan dan kelemahan sebuah kamera. “Nggak cuma teori,” ucap seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada.

Roy Suryo lahir pada 18 Juli 1968 di Yogyakarta. Ayahnya neurolog dan ibunya guru sekolah menengah. Roy Suryo generasi keempat dari Sultan Paku Alam III. Ibunda Roy adalah cucu Paku Alam III. Sebagai keturunan langsung Paku Alam, masa kecil dia habiskan di nDalem Notowinatan yang rindang dan luas bersama ketiga saudaranya.

Meskipun menyandang gelar raden mas, Roy tak merasa dirinya istimewa. Ia bermain layang-layang dengan tetangga atau keluar-masuk kampung. Kebiasaan Roy itu oleh Soejono Prawirohadikusumo, ayah Roy, dianggap sebagai sesuatu yang berbeda. Kakak tertua dan adiknya hampir tak pernah keluar-masuk kampung.

Si ayah melarang anak-anaknya bermain di siang hari. Mereka harus tidur siang. Tapi, Roy dan Yayik selalu punya akal. “Untuk mengetes bapak bener-bener tidur, kita nyabut bulu kaki bapak. Kalau diam aja, berarti bapak udah tidur,” kata Yayik, tertawa.

Dalam pandangan saudara-saudaranya, Roy pribadi yang baik, meski punya kekurangan. Bagi Donny, Roy kakak yang asyik diajak bermain, meski mempunyai ego besar.

Sebaliknya, di mata kakak laki-lakinya, Sony Suryo, Roy orang yang suka mencari popularitas. “Lha kayak dia ikut tim (pelacakan) Tommy Soeharto, sebenarnya kan bukan (mencari) Tommy-nya yang penting, tapi … popularitasnya,” kata Sony, seorang dokter spesialis kejiwaan di satu rumah sakit Yogyakarta.

Menurut Sony, pola pikir seseorang akan berbeda kalau ia memiliki anak. Segala tindak-tanduk akan memperhitungkan dan mempertimbangkan anak atau keluarga. “Nah, Roy ini sing penting mlebu koran (yang penting masuk koran). Nggak ada perhitungannya,” kata Sony, tertawa.

Sony meragukan kemampuan Roy dalam bidang multimedia. Ia mencontohkan saat adiknya itu kehilangan laptop. Menurut Sony, pernyataan Roy bahwa laptop itu ditemukan berkat kecanggihan teknologi, adalah omong kosong.

Sebenarnya yang terjadi adalah kerja keras polisi. Polisi berkepentingan dengan laptop itu, karena di dalamnya terdapat data-data rahasia polisi. “Lha wong pencurinya sudah ketangkep terus ditanyai polisi, siapa yang nggak ngaku?” katanya.

Kejadiannya pada 2 Maret 2001. Roy dan Ririen menuju Denpasar, Bali, dengan bus untuk menghadiri seminar. Sampai di Banyuwangi, Ririen bangun dan ingin menelepon. Telepon seluler yang berada di dalam tas tangannya hilang. Tas laptop telah berganti isi jadi jenang dan air mineral. Pencurinya kemungkinan ikut menumpang bus lantas kabur.

Roy penasaran dan menghubungi PT Telkomsel untuk memantau aktivitas telepon selulernya. Melalui sistem pelacak call data record information, lalu lintas percakapan sebuah telepon seluler bisa diketahui. Sayangnya kartu telepon yang dicuri adalah kartu prabayar, sehingga aktivitas telepon seluler itu tak bisa dilacak.

Naluri ingin tahu Roy terusik. Dia segera mencari celah. Eureka! Sebuah cetak biru yang menjelaskan prinsip kerja kartu telepon seluler didapatkannya. Roy dan PT Telkomsel berhasil menemukan nomor telepon yang dihubungi dan menghubungi telepon seluler yang dicuri itu. Berkat posisinya sebagai narasumber dan konsultan di markas besar kepolisian Indonesia, Roy berhasil mendapatkan nama pemilik, alamat, dan aktivitas komunikasi si pemegang teleponnya.

Pelacakan laptopnya dilakukan Roy dengan menghubungi penyedia jasa internet untuk mengetahui aktivitas akses internet. Si pencuri ternyata menggunakan laptop Roy untuk mengakses internet dengan password dan login milik Roy.

Setelah sebulan melacak, Roy mulai bertindak. Ternyata telepon selulernya berpindah tangan lagi. Pemilik baru adalah seorang dosen yang mengatakan ia membeli telepon itu dari sebuah dealer resmi di jalan Tamansiswa, Yogyakarta.

Roy dan pihak kepolisian Yogyakarta bergerak. Pemilik toko telepon seluler itu mengaku memperolehnya dari orang yang bekerja di sebuah agen bus di Terminal Umbulharjo, Yogyakarta. Kerja sama itu berhasil menemukan tersangka. Barang-barang Roy berhasil ditemukan, walau data-data dalam laptop telah rusak.

Roy menanggapi ungkapan Sony dengan tenang. “Saya anggap itu risiko pohon. Pohon itu semakin tinggi semakin kena angin, nggak apa-apa,” katanya.

Majalah Forum Februari 2001 menurunkan laporan panjang hasil pelacakan buronan 18 bulan, Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto, putra bungsu mantan presiden Soeharto, yang menghindar dari hukuman penjara. Tim khusus yang dibentuk markas besar kepolisian Indonesia dengan dibantu konsultan teknologi informasi berhasil melacak nomor-nomor telepon yang dihubungi atau menghubungi Tommy.

Namun laporan itu menimbulkan keresahan dalam tim. Betapa tidak. Metode melacak Tommy yang sangat dirahasiakan polisi tiba-tiba diketahui banyak orang secara detail. Akibatnya anggota tim saling curiga. Keresahan tersebut berujung dengan mundurnya Roy Suryo, konsultan tim tersebut. Meski Forum tak menyebutkan nama, tapi Roy merasa tulisan itu memojokkan dirinya dan menempatkannya sebagai pihak yang membocorkan hasil pelacakan.

Kecurigaan ini mungkin didasarkan pada kedekatan Roy dengan kalangan media. Roy sering menelepon atau menghubungi majalah, stasiun televisi, atau koran untuk menyampaikan suatu informasi. Andi F. Noya, pemimpin redaksi Metro TV, mengatakan, “Saking enerjiknya, setiap ada temuan teknologi baru, Roy selalu menelepon saya.”

Sebelum Forum memuat laporan pelacakan Tommy, Roy pernah memperlihatkan print out lalu lintas telepon Tommy dan inner circle-nya pada Noya. Waktu itu Roy bilang bahwa informasi itu off the record, sehingga Noya pun hanya menyimpan informasi itu untuk dirinya.

Bagaimana tanggapan polisi? Juru bicara polisi Inspektur Jenderal Didi Widayadi berkata, “Pak Suryo adalah tipe orang yang mengabdikan diri pada ilmu pengetahuan. Jadi kalau ia mundur, saya rasa itikad moral seorang profesional tidak demikian.”

Awal Maret 2001.”Roy Suryo, Sang Jagoan,” kalimat itu menarik perhatian saya ketika sedang menjelajahi situs web kepolisian Indonesia http://www.polri.go.id. Saya segera membacanya, dan isinya benar-benar mengejutkan. Ditulis oleh seseorang dengan nama samaran “Anak 1000 Pulau.”

Tulisan itu penuh caci maki pada Roy Suryo. “Anak 1000 Pulau” mengatakan Roy hanya cari muka di hadapan publik atau polisi dengan jabatannya sebagai “pakar teknologi informasi.” Dia juga meragukan kemampuan Roy. “Anak 1000 Pulau” menganjurkan Roy Suryo agar jadi, “Pakar yang besar dan matang dari kemampuan Anda sendiri, bukan dari belas kasihan publik.”

Dia juga menantang Roy Suryo menebak siapa dirinya dan dari mana ia mengakses internet. Caci maki itu tidak hanya dilakukan sekali. Situs polisi itu dibanjiri cacian dan segala hujatan dari para carder -sebutan untuk para pencuri internet yang menggunakan kartu kredit orang lain untuk belanja di dunia maya.

Ada juga yang mempermasalahkan istilah “pakar.” Orang yang sering menulis di suratkabar atau muncul di televisi, dengan enteng disebut “pakar.”

Menurut Roy, hujatan para carder itu muncul sejak dia mengumumkan 27 titik rawan kejahatan internet di Yogyakarta. Buntutnya adalah penangkapan empat orang pelaku tindak kejahatan di internet awal April 2001 lalu. Menurut Roy, sebanyak 65 orang telah masuk daftar dan menyusul 98 orang lagi.

Kenapa Roy melakukan itu? Salah satu alasan yang dikemukakan Roy adalah karena sakit hati. Sebelum dia mengumumkan perang pada para carder, Roy sudah mengingatkan agar mereka menghentikan kegiatannya. Para carder tidak ambil pusing bahkan pesanan mereka makin banyak dan beragam.

It’s time to act! Roy mulai melancarkan serangan. Ia menyebarluaskan kejahatan di internet itu melalui media massa. Setiap ada kesempatan tak lupa ia menyinggung masalah yang satu itu.

Selain sakit hati, Roy merasa kegiatan ilegal ini mengakibatkan banyak perusahaan atau toko yang melayani online shopping menolak transaksi dan pengiriman barang ke Indonesia. Para pengusaha di internet tidak lagi percaya dengan pembeli asli. “Padahal bisnis di internet itu kan dibangun atas dasar trust dan networking,” katanya. Dia menceritakan pengalaman buruknya berbelanja via internet. “Kita mau belanja pakai duit sendiri, tapi diperlakukan kayak penjahat,” keluhnya.

Pengalaman ini makin menguatkan niatnya memerangi kejahatan internet. Apakah perseteruan itu berhenti seiring penangkapan carder? Kemungkinan besar tidak. Perseteruan itu terus berlanjut. Hujatan dan cacian masih dilancarkan. Sementara itu, Roy Suryo mungkin sibuk dengan pekerjaannya yang lain serta Mercedes Benz miliknya. ***