Harry Potter and The Deathly Hallow

Akhirnya… setelah sekian lama penasaran bagaimana akhir dari serial Harry Potter (selanjutnya aku singkat Harpot ya?)… aku bisa baca buku ini. Thanks to Biduk yang udah pinjemin aku buku ini. Sementara ini aku harus puas dengan meminjam buku-buku harpot..Ntar kalo dah ada rejeki yang lebih, aku harus punya buku ini.

Aniwei, kesan pertamaku setelah baca buku ini, amazing!!! Aku angkat topi untuk bu JK yang punya imajinasi sehebat ini. Harus aku akui, buku ini menyajikan suspense yang ga pernah berhenti, dari awal hingga akhir cerita. Aku bayangkan, jika buku ini dijadikan film, maka Harpot ke 7 akan menjadi film yang paling seru dari semua film Harpot.

Gak kayak buku-buku Harpot yang lain, buku ke 7 ini dimulai dengan sebuah pertemuan yang menegangkan, antara Voldermort dengan para pengikutnya. Biasanya Harpot dimulai dengan kesibukan di akhir muim panas, ketika Harry mempersiapkan diri untuk mulai masuk sekolah. Bab awal buku ini bernuansa kelam dan mengerikan.

Masuk ke bab kedua, mulailah ketegangan itu. Kepergian Harry dari Privet Drive, perpisahan yang mengharukan (atau canggung?) antara Harry dengan Dursley. JK akhirnya memutuskan untuk mengubah sifat jahat Dursley menjadi lebih baik terhadap Harry. Sampai menjelang bab terakhir, ketegangan demi ketegangan terus bermunculan.

hogwarts.jpg

bersambung yah…

Perjalanan penuh ketegangan dan emosi dimulai ketika Kementrian Sihir jatuh di tangan Kau-Tahu-Siapa. Harry, Hermoine dan Ron yang sedang sibuk menjadi panitia pernikahan Bill-Fleur, segera melarikan diri untuk menghindari kejaran Pelahap Maut. Perjalanan kali ini lebih melelahkan bagi trio ini, baik secara fisik maupun emosi. Lelah fisik karena trio ini harus berpindah-pindah tempat persembunyian untuk menghindari kejaran pelahap maut atau voldermot. Lelah emosi karena minimnya informasi yang diberikan almarhum Dumbledore, membuat trio ini harus menebak-nebak ke mana tujuan berikutnya. Belum lagi persoalan logistik makanan yang tidak dipersiapkan, sehingga memunculkan konflik antara trio ini.

ini untuk pertama kalinya mereka mengalami fakta bahwa perut kenyang berarti suasana gembira; perut kosong berarti pertengkaran dan kemurungan.

Hampir separoh isi buku ini menceritakan keraguan hati Harry terhadap tugas dan kepercayaan yang diberikan Dumbledore kepadanya. Beberapa teman Harry bahkan menyangsikan kemampuan Harry dan kedua sahabatnya.

Kepercayaan diri Harry mulai bangkit ketika salah seorang sahabatnya mati dipelukannya, ketika berusaha menyelamatkan Trio ini dari penjara bawah tanah rumah Lucius Malfoy. Saat itu Harry menguatkan hati dan kemampuannya untuk melawan Voldermot dan melaksanakan tugas yang diberikan Dumbledore.

***
Sekali lagi aku harus acungkan dua jempol untuk karya terkhir JK ini. Aku menangis dan tertawa mambaca bagian per bagian buku ini. Emosi yang bergerak naik-turun yang melingkupi buku ini, menghanyutkan aku.

Bagian yang paling menyentuhku adalah ketika Harry dalam kepasrahannya menghadapi kematian (menjelang duel dengan Voldermot), meminta arwah ibunya untuk selalu berada di dekatnya. Demikian juga arwah Sirius, James (tentu saja), lupin dan orang-orang yang disayangi Harry. Kepasrahannya itulah yang membuat Harry bertahan dalam menghadapi serangan Voldermot.

janganlah berbelas kasihan pada yang sudah mati, Harry..Kasihanlah kepada mereka yang masih hidup, dan terutama sekali pada mereka yang hidup tanpa cinta.

***
Perjalanan Si-Anak-Yang-Bertahan-Hidup telah berakhir di buku ini. Namun, kesan yang mendalam selama dan setelah membaca buku-buku Harry Potter tidak akan hilang. Aku telah menyaksikan bagaimana Harry bertahan hidup, terluka, mencintai dan dicintai. Kehilangan dan kepedihan yang dirasakan oleh Harry, terasa sangat membekas… Bravo bu JK…