Radio adalah media dengan kekuatan dan keunikan yang tidak dimiliki oleh media lain. Radio menyediakan dunia imajinasi tanpa batas dan membebaskan pendengar mengimajinasikan dunia visual dalam kepalanya. Diantara sekian banyak jenis program acara radio, sandiwara radio merupakan media yang memungkinkan pendengar membebaskan imajinasinya. Sandiwara radio atau drama radio menurut situs ensiklopedia, Wikipedia, adalah sebuah bentuk penyampaian cerita yang berbasis audio dan disiarkan di radio. Tanpa kehadiran komponen visual, sandiwara radio sangat tergantung pada kekuatan dialog, musik dan efek suara. Ketiga hal tersebut saling melengkapi dan membantu pendengar mengimajinasikan cerita.

Sandiwara radio merupakan salah satu media yang efekif untuk menyampaikan pesan, bahkan mentransfer pengetahuan. Pada tahun 1980-an, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memproduksi sandiwara radio berjudul Butir-Butir Pasir Di Laut yang bercerita tentang pentingnya KB. Di Afrika, India dan banyak negara berkembang lainnya, sandiwara radio digunakan untuk mengkampanyekan nilai-nilai hidup sehat, Sosialiasi tentang penyakit HIV/AIDS dan lain sebagainya .

BAGAIMANA MENULIS NASKAH SANDIWARA RADIO?

Penting untuk diingat, bahwa pendengar sangat tergantung pada apa yang mereka dengar dan imajinasi pendengar diciptakan melalui kata dan suara. Oleh karena itu, dalam menulis naskah sandiwara radio, kita harus memperhatikan beberapa hal berikut:

1. Cerita/plot. Ada banyak cerita di sekeliling kita. Yang harus kita lakukan adalah menentukan mana yang akan kita jadikan sebagai tema utama. Jika kita telah menemukan tema cerita, segera tentukan plot atau alur cerita.

2. Karakter. Karakter adalah tokoh yang akan memainkan peran dalam sandiwara radio kita, baik yang bersifat baik (protagonis) maupun jahat (antagonis). Karakter yang kita ciptakan sebaiknya cukup realistis dan sesuai dengan cerita.

3. Musik dan Efek suara. Berbagai variasi efek suara dapat digunakan untuk menarik perhatian pendengar dan merekatkan imajinasinya sehingga menjadi satu gambaran yang utuh. Meski demikian, efek suara yang terdengar aneh/tidak lazim, bisa jadi malah membingungkan pendengar. Oleh karena itu, sebaiknya kita menggunakan efek suara yang familiar di telinga pendengar kita.

4. Dialog. Minimnya komponen visual dalam sandiwara radio mengharuskan kita untuk mendeskripsikan situasi yang terjadi melalui dialog, dibantu oleh efek suara atau musik. Oleh karena itu sebaiknya dialog dalam naskah cukup jelas menceritakan keadaan, misalnya dengan menggunakan kata kerja aktif ketimbang kata kerja pasif.

Setelah kita mengetahui hal-hal diatas, saatnya menulis naskah sandiwara radio. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1. Formulasikan ide cerita. Buat outline atau garis besar cerita tentang karakter, plot, setting, konflik dan resolusi.

2. Tulis sebuah narasi mengenai cerita yang sudah kita miliki tersebut. ingatlah selalu dengan keterbatasan radio. anda sedang menulis untuk pendengar, bukan pemirsa.

3. Bagilah narasi cerita anda ke dalam adegan-adegan dengan deskripsi lengkap tentang setting, karakter dan efek suara.

4. Tulis dialog berdasar narasi cerita anda. Jika perlu, sertakan catatan tentang situasi emosional karakter kita.

5. Buat cerita anda tadi dalam bentuk naskah radio.

6. Edit naskah anda setelah beberapa hari. Ini penting untuk menemukan kesalahan dalam naskah anda. Lebih baik lagi jika ada orang ketiga yang ikut membaca naskah anda.
7. Naskah kita siap untuk diproduksi. Nah, tunggu apa lagi?
***

Format standar naskah, terdiri dari beberapa bagian berikut ini:
A. Halaman Judul. Menjelaskan judul program, judul sandiwara radio atau episode apa yang sedang dikerjakan.
B. Adegan. Menunjukkan nomer adegan, deskripsi tentang lokasi adegan (dalam ruangan atau luar ruangan) dan waktu saat adegan itu terjadi (pagi, siang, sore, malam).
C. Petunjuk Naskah.
terdiri dari:
1. petunjuk dialog
2. petunjuk musik
3. petunjuk efek suara
Petunjuk Naskah berguna bagi pengisi suara dan kru untuk menciptakan suasana, emosi dan mood sesuai tuntutan naskah/cerita. Selain itu, petunjuk naskah juga berguna bagi pengisi suara dan kru untuk mengetahui kapan mereka melakukan apa. Petunjuk naskah biasanya ditulis dengan huruf kapital, garis bawah atau cetak tebal.
D. Catatan Produksi. Berisi komentar atau instruksi dari penulis naskah atau sutradara.Bagian ini berfungsi bagi teknisi, pemeran atau kru untuk mengetahui bagaimana mengkoordinasikan dan menciptakan efek suara tertentu.

****

BOX:

Amerika Serikat pada tahun 1938. Saat itu tak kurang dari sejuta warga AS mendengarkan sebuah sandiwara radio berjudul “War of The Worlds” karya Orson Wales dan John Houseman. Sebuah berita mengejutkan tiba-tiba muncul di tengah sandiwara radio ini.
“Ladies and gentlemen, Saya Carl Phillips, saat ini saya berada di Wilmuth farm, Grovers Mill, New Jersey. . . .Well, Saya . . tidak tahu dari mana memulainya, saya tidak punya kata-kata untuk menceritakannya! saya baru saja tiba di tempat ini… saya hampir tidak mempercayai apa yang saya lihat saat ini … sebuah pemandangan yang menakjubkan…. seperti… seperti dalam kisah modern Arabian Nights. Saya tidak tahu apa yang saya lihat… sesuatu muncul dari dalam tanah. Tadi diawali sebuah goncangan yang hebat…. kemudian sebuah lubang menganga dari dalam bumi…. seperti sebuah bekas meteor yang jatuh. Lihat.. sebuah obyek keluar dari lubang tersebut .. bukan meteor… tapi lebih menyerupai silinder raksasa….”
Selang beberapa menit kemudian “reporter” Phillips, ditemani oleh “astronomer,” Professor Pierson, menceritakan seperti sebuah berita radio tentang kemunculan robot-robot raksasa dari dalam bumi yang menghancurkan apapun yang menghadang. Menghancurkan gedung dan membunuh ribuan manusia. ‘Reporter’ lain melaporkan penyerangan alien di daerah lain.
Dengan model penyampaian bergaya laporan pandangan mata, ditambah dengan efek suara yang dahsyat, sandiwara ini telah berhasil meyakinkan warga Amerika Serikat bahwa telah terjadi invasi makhluk Mars ke bumi. Akibatnya, kepanikan melanda jutaan warga Amerika. Padahal berita tersebut hanyalah bagian dari adegan dalam sandiwara radio.

***

* tulisan ini telah dimuat di Buletin Kombinasi, edisi bulan November 2007*