Sudah lama mo posting tentang televisi, baru sekali ini kesampaian. Sekali lagi saya mo bicara tentang televisi. Bukan tentang dampak negatifnya…. sudah banyak yang membahas. Silakan tanya pakde google kalo pengen tahu. Saya ingin berbagi pengalaman saya merebut kembali kendali atas diri priadi dan anak-anak saya, yang telah direbut oleh kotak kaca itu.

Saya dan suami telah bersepakat bahwa televisi adalah racun. Oleh karena itu keputusan untuk menghadirkan televisi di ruang keluarga kami, merupakan sebuah keputusan yang berat. Pertam kali kami memiliki tivi, kami membeli sebuah tv tuner merk gadmei. Pertimbangan kami, kalo tivi tuner yang terjalin dalam sebuah PC, maka tidak sembarang orang bisa menyetelnya. dengan demikian, orang rumah (pmbantu maupun sodara) tidak sembarangan menyetelnya. AKan tetapi, ternyata rencana ini tidak berjalan dengan semestinya. Tv tuner tu kemudian menjadi entitas yang berdiri sendiri di luar PC, apalagi sejak PC itu rusak.

 

 

Kemudian, monitor PC ikut-ikutan rusak. jadilah rumah kami kembali sunyi dari terpaan iklan dan tayangan yang tidak mendidik. Namun ternyata, pola perilaku anak kami telah berubah sejak tivi hadir dirumah. dia mulai tergantung pada acara-acara tv. Untuk memuaskan rasa ingin tahunya, ia sering main kerumah tetangga, sekedar untuk menonton tv. Kami semakin khawatir, karena kami tidak bisa mengontrol acara tv yang di tontonnya. Akhirnya dengan berat hati, kami membelikan tv, kali yang sebenarnya. Kami membeli tv 21 inci merek sonny. Suami saya sangat keberatan dengan ide ini. Tapi apa boleh buat.. daripada anak main dan nonton yang enggak-enggak…

 

 

Racun televisi itu makin tak terbendung. Anak kami makin gila tv dan mulai menunjukkan tanda-tanda ketergantungan. Dia mulai menunda-nunda pekerjaan karena dia lebih suka menonton tv. Ketika kami berbicara, saya tidak menemukan matanya fokus ke lawan bicara. Dia bisa ngobrol sambil terus memandang layar kaca. Perilakunya juga makin mengkhawatirkan, misalnya mulai suka bermain silat-silatan karena meniru tayangan di tv, menggunakan bahasa yang jelek dan lain sebagainya.

 

 

Puncaknya, ketika anak kami makin sulit diajak sholat maghrib (atau sholat dengan terburu-buru) karena ingin melihat film kartun kesayangannya dulu… Kami merasa tv sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Kami lalu memutuskan untuk membatasi tayangan yang boleh dilihat. Kami membuat kesepakatan dengan anak kami, bahwa film kartun yang boleh ditonton hanyalah film Tsubasa, Dora dan Diego. Tak lupa, kami jelaskan kenapa kami membatasi film yang ditontonnya. Tentu saja anak kami berontak. Butuh waktu yang cukup lama untuk membuatnya mengerti. Akhirnya dia memang mau mengerti… meski kami tau, dia masih curi-curi menonton film kartun ketika kami tak ada di rumah.

 

Perjuangan kami untuk melawan kekuasaan televisi di ruang keluarga kami sangatlah berat. Rengekan dan tangis anak kami mewarnai setiap diskusi kami mengenai film yang boleh ditontonnya. Bagi saya pribadi, merasa kasihan melihatnya tersiksa menahan keinginannya untuk menonton film. Namun saya akan merasa lebih kasihan lagi kalau dia saya biarkan mengkonsumsi tayangan-tayangan yang tidak mendidik itu. Berbagai perilaku negatif yang bisa ditirunya, bahasa, bahkan cara pandangnya akan ditirunya dari tv. Saya merasa berdosa jika membiarkannya seperti itu.

 

Namun, kami tidak begitu saja membatasi anak kami menonton tv. Sebagai kompensasinya, kami menyediakan berbagai film kartun yang lebih aman baginya. Untuk itu, kami membelikan dvd/vcd player. Dengan cara ini, kami sebagai orang tua merasa lebih bisa mengendalikan televisi Remote control itu adalah alat yang memudahkan kami, untuk mematikan tv, ketika kami tidak sepakat dengan tayangannya. Bukan sebaliknya.

 

Inilah sekelumit pengalaman kami dengan televisi. Semoga bermanfaat.