Setiap hari senin pagi, jalan Parangtritis di depan rumah saya selalu penuh sesak dengan kendaaran bermotor. Mereka adalah para penglaju yang mencari nafkah atau sekolah  di utara, Kota Yogyakarta. Setiap pagi, mulai dari jam 6-9 pagi, sulit bagi kami untuk menyeberang jalan, saking padatnya kendaraan. Yang paling mengkhawatirkan adalah, kencangnya laju kendaraan tersebut.

Setiap hari senin, asisten rumah saya selalu saya minta datang lebih awal. Kesibukan pagi hari dirumah pada hari senin cenderung lebih banyak ketimbang hari biasa. Mungkin karena pada hari senin, kami masih terbiasa bangun siang (seperti yang biasa kami lakukan pada hari sabtu dan minggu).  Oleh sebab itulah, saya membutuhkan kehadiran asisten yang lebih awal dari biasa.

Setiap hari senin, kesibukan dikantor jauh lebih padat daripada hari biasa. Umumnya disebabkan karena penumpukan pekerjaan. Sudah menjadi kebiasaan (buruk), akhir minggu tidak ditutup dengan selesainya pekerjaan, namun dengan utang pekerjaan minggu depan.

Setiap hari senin, saya selalu berusaha untuk menjadikan minggu ini lebih baik, lebih produktif dan lebih ramah dari minggu sebelumnya. Ini artinya saya harus menyelesaikan lebih banyak pekerjaan sebelum akhir minggu datang. Saya harus lebih banyak bersosialisasi dengan lebih banyak orang. Saya harus lebih banyak tersenyum pada lebih banyak orang, mengingat default wajah saya yang ‘kurang ramah’.

sebuah tekanan atau tantangan?