*sdh diunggah di akun facebook saya, 5 Maret 2011*
Minggu ini adalah minggu ketiga saya tanpa laptop. Yah.. laptop macbook putih yang setia menemani saya sejak tahun 2008, sekarang sedang istirahat dengan tenang. Kipas yang ada di dalam bodi si apple krowak itu telah dinyatakan mati dengan sukses dua minggu yang lalu. Gejalanya sangat wajar. Mulanya hanya terdengar dengung suara kipas yang di luar kewajaran. Makin lama dengung itu makin keras hingga mulai mengganggu orang disekitar.

Saya sudah berikhtiar membawanya ke bengkel Apple di dekat perempatan kentungan, jalan kaliurang. Menurut mekanik, kipas  macbook saya kotor dan mengalami korosi. Yah… maklumlah, laptop itu kerja keras sejak merapi meletus dan (mungkin) debu vulkanik yang halus, telah masuk ke dalam bodinya. Beberapa hari setelah di servis, kipas tiba-tiba mati total. Lalu dengan berat hati, saya memutuskan untuk tidak menggunakannya dengan pertimbangan agar penyakit tidak menular ke bagian lain. Saya memutuskan untuk mencari spare part kipas tersebut, untuk mengganti kipas yang rusak. But it takes time which i don’t have one..😦

Persoalan baru pun muncul. Jika macbook harus pensiun dini, lalu bagaimana nasib pe-er yang masih numpuk dan terkubur di dalam harddisknya? Masalah ini rupanya lebih pelik ketimbang mengganti kipas. Maka, terpaksa kami (saya dan suami) memutuskan untuk membeli seperangkat komputer PC, dibayar kontan..(halah, malah kayak ijab qabul). Dan hadirlah si item. PC dengan kekuatan yang lebih dari cukup untuk aktivitas menulis dan berselancar, di dukung oleh ubuntu sebgai operating systemnya. Alhamdulillah…

Tapi rupanya, ada yang berubah dalam ritme kehidupan saya setelahnya. Hidup saya menjadi lebih lambat dan lebih manusiawi. Dulu ketika saya masih ber-macbook, saya selalu merasa sakaw kalo tidak terjun ke dunia maya. Sakaw rasanya kalo tidak online untuk sekedar membaca kicauan teman-teman atau mengomentari status teman SMA atau membaca e-book gratisan yang saya donlot dari gigapedia (padahal buku terjemahannya udah beredar di toko buku .. dasar sok ngenggres), atau membuat catatan-catatan dan bahan kuliah lainnya. Saya begitu terpaku dan intens dengan dunia maya, sehingga sering saya kelaparan karena ditinggal makan siang oleh rekan-rekan kantor (mungkin karena mereka sebel udah panggil-panggil saya, tapi saya ga denger karena asik internetan). Pulang dari kantor, saya sering mengeluh pundak saya sakit karena tas yang berat, berisi si putih dan ubarampenya.

Sekarang, saya jadi lebih sering ngobrol dengan teman-teman. Saya mempunyai kesempatan untuk berdiskusi tentang problem keilmuan sosiologi atau sekedar mengajak teman berenang.. Saya jadi lebih sering berjalan melintasi lorong di kantor saya, dari sayap timur ke sayap barat yang jaraknya cukup jauh. Lumayan untuk olah raga.. Saya juga belajar untuk lebih sabar dan lebih tertata dalam hidup, ketika saya harus antri komputer di kantor atau sekedar melayani permintaan teman untuk nge-print surat.. Bahkan saya sekarang belajar menggunakan system operasi Ubuntu dengan semua aplikasinya. Saya makin menyadari bahwa hiudp itu penuh dengan pilihan. Persoalannya adalah apakah kita sadar dengan pilihan itu? dan apakah kita mau belajar atas pilihan itu?

Hidup saya jadi lebih lambat, tapi lebih bermakna.

Tentu saja, saya tetap merasa ada yang hilang dalam hidup saya saat ini ketika si putih tidak berada di dekat saya. Saya mengakui kalo saya sudah sangat tergantung pada benda itu. Tapi si putih juga telah memberi saya banyak pelajaran dan pengetahuan. Si putih telah berjasa membawa saya pada titik dimana informasi, teknologi dan seni, ternyata bisa dipadukan dalam sebuah perangkat. Akan tetapi, pelajaran paling berharga dari si putih adalah, secanggih apapun perangkatnya, kalo manusianya tidak bisa memahami manusia lain di sekelilingnya, maka perangkat itu tidak ada gunanya. Manusia yang menggunakan perangkatlah yang penting, bukan sebaliknya.