Sebelum memulai diskusi, saya ingin bertanya pada anda, para orang tua yang budiman. Dalam seminggu terakhir, berapa kali anda menyambut anak-anak pulang sekolah (atau bagi orang tua yang bekerja, saat bertemu kembali di rumah) dengan senyuman? Siapa yang menyambut anak-anak pulang dengan ungkapan, ” Lepaskan sepatu berlumpur itu!” atau “Kerjakan PR sekarang sebelum kau melakukan kegiatan lain”?

Saya mengenal beberapa orang tua yang tidak mengacuhkan anak-anak ketika mereka pulang sekolah. Ungkapan yang terlontar diatas adalah salah satu bentuk ketidak acuhan tersebut. Bagaimana anak-anak mengetahui bahwa orang tua mereka mencintai mereka? Seberapa sulit untuk memberikan senyuman atau bahkan sebuah pelukan saat mereka pulang sekolah? Kita sebagai orang tua, tidak pernah mengetahui secara persis, bagaimana anak-anak kita menjalani hari-harinya di sekolah. Mungkin saja mereka menjalani hari yang bahagia (menjadi yang pertama dalam menyelesaikan tugas dari guru, berhasil menyelesaikan konflik dengen teman sebangku, atau sekedar bercanda dengan dengan teman-teman dll) atau justru tidak bahagia (bertengkar dengan sahabat, mendapat teguran dari guru karena tidak menegerjakan pe er dll). Kita mengetahuinya dari cerita mereka atau tulisan di buku komunikasi. Namun sebuah senyuman dan pelukan kita saat anak-anak kita pulang sekolah adalah obat termanjur dan mujarab untuk menyembuhkan luka yang mereka tanggung seharian di sekolah atau menumbuhkan rasa percaya diri mereka karena berhasil menyelesaikan tugas.

Sebuah senyuman atau pelukan mungkin memang tindakan yang  sepele, tapi perbedaannya sungguh besar bagi anak-anak. Mereka hanya ingin mengetahui bahwa anda bahagia telah melihat mereka. Anak-anak ingin mengetahui bahwa tempat teraman dan ternyaman adalah rumah mereka, dengan orang tua yang selalu ada untuk mereka.

Jadi, jika memang sepatu mereka kotor dan anda baru saja selesai mengepel lantai, anda dapat melontarkan lelucon untuk menghentikan langkah mereka. setelah itu, berikan mereka pelukan dan ciuman karena telah bekerja sama.

Sumber:

Richard Templar, The Rules of Parenting, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2008