Saya mengenalnya tanpa sengaja. Dalam sebuah grup chatting Jalin Merapi,ketika saya kewalahan menghandle

informasi yang membanjir. Saya yang saat itu bersukarela membantu menyimpan berkas diskusi, akhirnya tak sanggup karena saat yang bersamaan, saya juga memantau lalu lintas kicauan akun jalin merapi. Mbak Nina hadir dengan malu-malu, menyatakan siap membantu saya. Saya lega, karena tugas saya (sedikit) berkurang.

Kurang lebih 2 bulan kemudian, mbak Nina nongol di jogja. Hadir secara riil, bukan semata text seperti hari-hari sebelumnya. Mbak Nina adalah orang Jogja yang saat itu tinggal di Balikpapan. Dari seberang pulau, beliau membantu dan menjadi relawan jalin merapi. Ketika mbak Nina datang ke jogja, saya merasa surprise. Mbak Nina yang ada di hadapan saya, ternyata seorang ibu yang pemalu (atau mungkin saya yang terlalu agresif dan dominan?). Mbak Nina ga banyak bercerita. Ia hanya duduk setia di depan saya dan mendengarkan saya bercerita panjang tentang jalinmerapi (padahal, apalah yang saya tau tentang JM?). Saya lalu mengantarnya ke salah satu posko JM di tepi kali Code. Mbak Nina, dengan gayanya yang malu-malu, hanya tersenyum menanggapi celetukan relawan JM. Ia kemudian mohon pamit karena satu dan lain hal.

Perkenalan saya dengan Mbak Nina, membawa saya pada kebiasaannya mengamati langit. Darinya, saya kembali melakukan kebiasaan saya jaman SMA. Duduk di bawah jendela kamar dan mengamati langit yang penuh bintang. Meski saya tidak pernah hapal nama-nama bintang, tapi kebiasaan mbak Nina ini sangat menarik bagi saya.

Saya selalu takjub dan terharu setiap membaca tulisan-tulisan mbak Nina. Dari halaman-halaman notes di fesbuknya, saya jadi  menyadari bahwa mbak Nina adalah makhluk berbakat dengan tulisan dan penghayatan yang mendalam. saya selalu merasa minder setiap usai membacanya.

Bantuan terbesar mbak Nina adalah ketika beliau bersedia meringkas arsip-arsip diskusi grup-grup JM yang bertebaran di fesbuk. Sekali lagi, dengan kemampuan menulisnya yang sangat bagus, diskusi yang tidak terarah (kadang saru dan gak jelas), bisa berubah menjadi sebuah ringkasan yang enak dibaca dan sangat perlu. Ringkasan-ringkasan itu, akan membawa siapapun yang membacanya, ke sebuah waktu ketika rasa empati dan dukungan demikian besar mengalir bagi korban letusan Merapi. Ringkasan-ringkasan tersebut, merupakan catatan penting dalam sejarah manajemen informasi pada saat bencana. Sebagus dan setulus apapun kerja kemanusiaan, mungkin akan segera dilupakan jika catatan-catatan kecil pengingat kejadian, tidak didokumentasikan. Semoga pemilik Facebook bermrah hati dan tidak menjual catatan tersebut untuk kepentingannya.

Saya tidak bisa berkata lain kecuali, matur nuwun mbak.. Lemah teles, Gusti Allah sing mbales…