Al kisah, disebuah sudut hutan yang gersang, tinggallah seorang ibu dengan 3 orang anak laki-lakinya. Keluarga ini tinggal di sebuah rumah yang memiliki halaman depan dan belakang yang luas. Tak ada yang bisa diandalkan dari hutan gersang di sebelah rumah mereka. Namun berkat ketekunan sang ibu, halaman depan  dan belakang rumah itu, terlihat hijau, dipenuhi oleh segala kebutuhan sehari-hari keluarga tersebut. Berbekal sedikit pengalaman yang diperolehnya saat kuliah, sang ibu mengajari anak-anaknya bagaimana mengolah tanah gersang menjadi produktif dan dapat ditanami lagi.

Ketiga anak Ibu itu, memiliki ketrampilan dan keahliannya masing-masing. Si sulung, pandai memelihara tanaman hias dan hewan-hewan unggas, sehingga halaman rumah mereka tampak semarak dengan aneka bunga dan tanaman hias. Ketelatenan si Sulung berbuah pada banyaknya ayam dan bebek yang mereka pelihara. termasuk telurnya. Si Tengah memiliki keahlian mengolah dan memelihara tanah dan tanaman pokok, seperti padi, jagung dan lain-lain. Berkat ketrampilan itu, keluarga si Ibu tidak khawatir lagi dengan persediaan makanan pokok mereka, karena sistem konsumsi makanan pokok yang telah teratur tanpa tergantung pada satu jenis makanan pokok saja. Sedangkan si Bungsu, pandai menjaga ternak dan mengatur persediaan air. Saat ini, mereka memiliki sejumalh sapi dan kambing yang berderet rapi di kandang di belakang rumah. Mengatur persediaan air, adalah tugas yagn penting mengingat hujan jarang turun. 

Pendidikan dan keuletan si Ibu membuahkan hasil yang sangat menggembirakan. Setiap 3 bulan sekali, keluarga tersebut membawa hasil panen mereka untuk dijual di pasar. Tidak banyak yang mereka jual, hanya jika kebutuhan mereka telah tercukupi, dan persediaan utk bibit telah terpenuhi. Dalam perjalanan menuju pasar, keluarga ini sering memberi bantuan kepada tetangga yang mereka liahat mengalami kesulitan, Tak heran, perjalanan ke pasar, bisa memakan waktu berminggu-minggu. Sering terjadi, bahan yang sedianya hendak dijual ke pasar, sudah habis diberikan kepada tetangga yang memerlukan.

Lambat laun, upaya dan usaha keluuarga ini mulai didengar dan diketahui oleh penduduk di desa-desa lain. Maka, undangan untuk memberi pelatihan dan berbagi pengalaman mulai berdatangan. Awalnya, Ibu dengan ditemani oleh salah satu anaknya yang memenuhi undangan tersebut. Lama kelamaan, Si Ibu merasa kelelahan, sehingga tugas memenuhi undangan itu ia limpahkan kepada anak2nya. 

Waktu terus berjalan, undangan berbagi dan memberi pelatihan semakin tak terhenti. Hingga akhrinya, si sulung memberanikan diri untuk menerima tawaran salah satu lembaga pemeliharaan tanaman hias dan bekerja sebagai konsultan ahli. Meski berat, si Ibu merelakan si Sulung. ternyata, Si Tengah dan si Bungsu pun mendapat tawaran yang sama. Dengan berat hati dan disertai cucuran air mata, si Ibu merelakan anak-anaknya pergi dengan satu pesan, bahwa apa yang mereka kerjakan akan memberi manfaat kepada lebih banyak orang dan komunitas. 

Lalu, tinggal lah si Ibu sendiri di rumah dan halaman yang luas. Si ibu kembali berkutat dengan pekerjaannya. Beberapa anak muda tetangga si bu itu, dengan suka rela membantu pekerjaannya. Meski mereka tak memiliki ketrampilan dan keahlian seperti anak-anaknya. 

Pada awal kepergian anak-anak si Ibu senantiasa mengirim kabar dan berita ke rumah. Si Ibu pun menceritakannya ke pada anak-anak muda yang berdatangan ke rumah. Tapi lambat laun, kabar dari Sulung, Tengah dan Bungsu, makin jarang, hingga akhirnya tak ada lagi kabar beritanya. Si ibu yang dirundung rasa rindu, akhirnya jatuh sakit. 

Anak-anak muda yang berusaha membantu ibu dengan merawat hewan ternak dan tanaman, sedikit demi sedikit, mulai berkurang. Satu – persatu sapi dan kambing milik Ibu, dijual karena Ibu tak lagi kuat untuk merawatnya. Sepetak demi sepetak, tanaman hias dan tanaman lainnya, mulai mati karena kekurangan air dan pupuk. Perlahan-lahan, halaman rumah yang tadinya hijau, berubah menjadi gersang, mirip dengan hutan di sebelahnya. 

Si Ibu hanya bisa menahan sakit dan air matanya meilhat halaman rumahnya berubah gersang. Menurut cerita, ketiga anaknya sekarang telah menjadi pejabat penting di bidangnya. berkat pendidikan si Ibu, mereka bisa bepergian ke luar negeri dan berbagi pengalaman yang mereka lakukan di rumah. Menjelang ajalnya, Si Ibu itu menulis surat untuk anak-anak yang tidak pernah ia lihat dan dengar kabar lagi. 

Tahun berganti, pada sebuah kesempatan, ketiga anak itu pulang ke rumah mereka. Betapa terkejutnya mereka, melihat rumah yang hampir ambruk dan halaman yang sangat gersang. Dengan panik, si Bungsu segera mendatangi rumah tetangga terdekat dan mencari tau apa yang terjadi. Setelah mengetahui bahwa Ibu telah meninggal, ketiga anak itu hanya bisa termangu dan tak-henti-hentinya menyesal. Tetangga yang baik hati itu segera menyerahkan surat terakhir yang ditulis si Ibu. Dengan suara bergetar menahan tangis, si Sulung membacakan isi surat itu kepada adik-adiknya: 

Anak-anakku yang sangat dan selalu aku cintai, 

 

Maafkan ibumu yang tak bisa bangun dan menyambut kedatangan kalian di rumah ini. Maafkan ibumu yang tidak mampu menjaga dan merawat kerja keras kita selama ini, sehingga sapi-sapi kesayangan Bungsu terpaksa Ibu jual. Bibit-bibit bunga langka yang Sulung simpan, terpaksa ibu berikan kepada pak Lurah dan benih jagung andalan yang tahan hama simpanan Tengah, ibu gaikan kepada penduduk desa ini. Maafkan ibumu nak… 

 Kaki ibu sudah tak sanggup lagi menahan berat badan Ibu, padahal hanya sesendok nasi dan secangkir air putih yang ibu makan dan minum setiap hari. Leher ibu sudah tidak mampu lagi menahan kepala Ibu, padahal hanya beberapa lembar rambut yang tumbuh diatasnya…maafkan ibumu nak…

 Ibu hanya berdoa, semoga apa yang telah kita pelajari bersama dan apa yang telah kalian kembangkan di luar rumah ini, akan membawa kebahagiaan bagi hidup kalian, rumah kalian, tetangga kalian… 

Maafkan Ibu, jari ini sudah tak kuat lagi memegang pena.. dan ayah kalian sudah tersenyum di alam sana. Ia telah bersiap menyambut kedatangan Ibu.. Baik-baiklah kalian bertiga di dunia ini.. Ingatlah selalu, ketrampilan dan keahlian kalian, adalah saling melengkapi…

 

Salam cinta, Ibumu

Ketiga anak itu pun menangis. Rasa menyesal luar biasa, menghinggapi hati dan pikiran mereka… Maafkan kami Ibu…