Beberapa hari yang lalu, Indi menangis diam-diam di kamarnya. Waktu saya tanya kenapa, dia bercerita bahwa beberapa teman sekolahnya telah mengejeknya (sedemikian rupa) dengan menyebutnya K*mS**P*y. Saat itu, Indi tidak tau apa arti kata itu. Tapi feelingnya tau, bahwa kata-kata itu artinya buruk dan menjelekkan dia. Dia lalu bertanya pada saya, apakah saya tau arti kata itu. Dengan sedih, saya beritau arti kata itu, dan dia makin sedih.

Menurut Indi, teman-temannya mendapat kata itu dari salah satu sinetron yang mereka tonton (maaf, saya tidak akan menyebutkan judul sinetron krn artinya saya memopulerkan istilah tersebut). Kata itu berasal dari soundtrack (saya juga tidak akan menyebutkan judul dan grup yang memopulerkan lagu ini) yang digunakan dalam sinteron tersebut. Indi yang penasaran, akhirnya saya ajak untuk melihat video klipnya. Dari video klip tersebut, Indi mengetahui apa arti kata itu secara lengkap. Salah satu lirik dalam lagu itu adalah sbg berikut:

Gak sudi berteman sama rakyat jelata, Mendingan lo semua ke laut aja..Jangan dekat-dekat denganku, Karena kamu bukan levelku, Kita beda Kasta, beda segalanya…

Selesai melihat video klip itu, saya tanyakan pada Indi, apa pendapatnya tentang lagu itu. Menurut Indi, lagu itu isinya orang sombong karena ga mau berteman dengan orang lain. Saya hanya mengiyakan, karena memang demikian lirik lagu tersebut. Malam itu kami berdiskusi tentang banyak hal. tentang buruknya kualitas tayangan televisi hingga pelapisan masyarakat (kasta).

Cerdas mensikapi tayangan televisi dan lagu

Selepas Indi tidur, saya kemudian merenung. Buruknya dampak tayangan televisi memang telah lama saya tanamkan pada anak-anak. Saat kelas 2 SD, Indi pernah membaca buku ‘Media Diet for Kids” yang berisi tentang dampak tayangan televisi dan game. Sampai saat ini, kami tidak pernah menonton sinetron (meski Indi dan Ali selalu mengeluh ketinggalan informasi dari teman-temannya yang menonton sinetron). Namun, pengaruh buruk syair lagu yang tidak mendidik, baru mulai terjadi akhir-akhir ini.

Harus diakui, syair lagu yang tidak mendidiklah (cinta satu malam, iwak peyek, dll) yang justru populer. pertanyaannya kemudian adalah, apa yang harus dilakukan? Ada beberapa hal, antara lain:

1. jika mampu, puasa nonton tivi (indonesia) atau ga usah punya tivi sekalian aja. Tapi pertanyaannya kemudian, kuatkah kita (orang dewasa) mendengar rengekan anak-anak yang pengen nonton tom and jerry, spongebob, indonesian idol, tendangan si madun dan lain sebagainya? belum lagi kalo orang tuanya sibuk?

2. okedeh, kalo ga mampu, pilih tayangan yang mendidik. dari beberapa tayangan yang sempat saya amati, ada beberapa tayangan (menurut saya) yang mendidik, antara lain: shaun the sheep, dora the explorer, minuscule, si bolang, dll. Sayangnya, prosentase tayangan yang mendidik itu, masih jauh lebih sedikit dari yang tidak mendidik.

3. Klo sudah selektif, berikutnya adalah Disiplin. Ga akan ada gunanya kalo orang tua tidak berpegang teguh pada komitmen bahwa acara tivi yang boleh dilihat anak-anak hanya yang telah saya sebut di atas. Anak-anak belajar dari kedispilinan menegakkan aturan. Di awal-awal pasti akan timbul penolakan. mulai dari marah hingga rengekan yang tak berkesudahan yang akan membuat kuping orang tua jadi panas hingga akhirnya menyerah. Akan tetapi, jika orangtua tetep berkomitmen, insya allah anak-anak akan mengerti.

4. kalo sudah disiplin, selanjutnya adalah mengalihkan perhatian anak-anak. Misalnya dengan mengajaknya berkebun, menulis cerita, menggambar, bermain dengan tetangga dan lain sebagainya. Yang penting, perhatian anak-anak tidak lagi terpusat pada tayangan televisi itu. Hal ini juga berlaku bagi orangtua, agar pikirannya tidak terpusat hanya pada kelanjutan cerita sinetron.

5. The most important adalah, selalu dampingi anak-anak dalam menonton tayangan televisi, bahkan dalam setiap aktivitas mereka. Indi dan Ali cenderung rela untuk tidak nonton acara televisi kalo kami ada di sekitar mereka. biasanya Ali memilih untuk menggambar, sedangkan indi memililh untuk menulis cerpen kesukaannya. Mendampingi anak-anak ketika menonton tivi selalu membuka peluang untuk mendiskusikan hal-hal yang ada di tivi, baik atau buruk. Inilah saat yang paling tepat untuk menginternalisasikan nilai-nilai yang dianut oleh keluarga. Di keluarga kami, diskusi ini bahkan sering berlanjut hingga menjelang tidur. Kami sangat menikmati hal ini.

Mendidik anak di jaman yang serba mudah dan modern seperti saat ini memang penuh tantangan. Tayangan televisi yang tidak mendidik, game yang penuh kekerasan dan pornografi, Internet yang penuh jebakan hanyalah sedikit dari tantangan yang dihadapi orang tua jaman sekarang. Akan tetapi internalisasi nilai-nilai kebaikan justru harus makin serius dilakukan oleh keluarga. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi siapapun untuk mengatakan bahwa ” kami sibuk, urusan penanaman nilai sudah kami serahkan di sekolah..

“Anak adalah kehidupan, mereka sekedar lahir melaluimu tetapi bukan berasal darimu. Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu, curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri. Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya, karena jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kau datangi bahkan dalam mimpi sekalipun. Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah menuntut mereka jadi seperti sepertimu. Sebab kehidupan itu menuju ke depan, dan tidak tenggelam di masa lampau. Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang melucur. Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian. Dia menentangmu dengan kekuasaanNya, Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat. Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah, Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap” (Kahlil Gibran)