Suatu hari seorang teman kantor saya (sebut saja Mawar, bukan nama sebenarnya) menunjukkan smartphone BlackBerry barunya, sambil berkata, ” Maaf yu, Aku sekarang pake ini juga…”. Mawar menunjukkan BBnya bukan untuk memamerkan gadget terbarunya. Justru ia menunjukkan dengan kesedihan yang mendalam karena sebenarnya ia telah bertekad untuk tidak menggunakan BB (dengan berbagai pertimbangan ideologis). Namun apa daya, komunitas baru dimana Mawar menjadi anggotanya, sebagian besar adalah pengguna BB, sedangkan ia adalah pengguna Android. Mawar lalu bercerita bahwa ia hampir saja melewatkan undangan penting karena informasi mengenai acara tersebut disebarkan melalui BB Grup. Untungnya, saat itu Mawar sedang bersama anggota yang lain, sehingga ia bisa memenuhi undangan tersebut.

Cerita Mawar ini kemudian menimbulkan sebuah renungan dalam diri saya, bahwa penggunaan dan pemilihan gadget dan TIK, secara langsung maupun tidak langsung, berkontribusi pada sebuah diskriminasi. Menurut Giddens et. al (2009), diskriminasi adalah prasangka atau perlakuan ‘berbeda’ terhadap seseorang berdasarkan keanggotaannya dalam sebuah kelompok. Prasangka atau perlakuan ‘berbeda’ tersebut termasuk reaksi inisial (awal) sebuah interaksi, upaya mempengaruhi tingkah laku seseorang terhadap kelompok atau ketua kelompok, membatasi kesempatan atau privillage bagi anggota kelompok  yang tersedia,  atau perilaku yang mengarah pada eksklusi seseorang berdasar keputusan logis atau irasional.  Dalam konteks pengalaman Mawar, ketua komunitas tersebut telah membatasi kesempatan Mawar untuk memperoleh informasi seputar kegiatan komunitas. Pembatasan kesempatan ini jelas merugikan Mawar.

Apa yang terjadi pada Mawar, tanpa di sadari terjadi di sekeliling kita. Cerita Mawar itu bukan yang pertama yang saya dengar. Saya telah sering mendengar betapa pilihan gadget atau TIK telah membatasi akses terhadap informasi teman-teman di sekeliling saya, hanya karena mereka tidak menggunakan platform yang sama. Tak hanya terjadi di ranah personal, diskriminasi gadget dan TIK juga terjadi di ranah yang lebih luas misalnya dalam manajemen bencana. Dalam sebuah diskusi informal dengan beberapa relawan @JalinMerapi, terungkap bahwa pilihan TIK yang digunakan oleh pemerintah atau NGO asing  pada saat erupsi Merapi, telah membatasi kesempatan korban dan pengungsi untuk mengakses informasi seputar erupsi. Pilihan aplikasi, teknologi dan media yang digunakan saat itu, hanya mampu melayani sebagian kecil korban, pengungsi, relawan dan semua pihak yang peduli dengan Merapi. Tak heran jika pada saat itu, informasi yang dikumpulkan dan disebarluaskan oleh JalinMerapi menjadi rujukan penting. Salah satunya karena kemampuannya menembus keterbatasan teknologi dan media informasi komunikasi. Sebagai contoh, Jalin Merapi menggunakan website sebagau pusat informasinya. Namun untuk memenuhi kebutuhan informasi real time bagi masyarakat menengah ke atas, twitter menjadi andalan utama. Sebaliknya, kebutuhan informasi masyarakat menengah ke bawah, terutama mereka yang tidak terbiasa dan familiar dengan twitter, maka grup diskusi di Facebook pun diciptakan. Belum lagi kebutuhan informasi bagi mereka yang tidak mempunyai akses internet, yang dipenuhi melalui radio komunitas atau bahkan TOA masjid!!

Kemampuan untuk menembus keterbatasan media dan TIK, pada saat ini bukanlah hal yang mengherankan. Hal ini mengingat upaya konvergensi teknologi dan media, juga platform terus dilakukan. Bagi pengelola informasi, keterbatasan media dan TIK harus menjadi pertimbangan utama sebelum memulai menyebarkan informasi tersebut. Berikutnya, penggunaan dan pilihan media dan TIK harus didasarkan pada sasaran informasi, termasuk didalamnya dalah kemungkinan penggunaan cross platform. Dengan demikian, informasi yang akan disebarkan akan mampu menjangkau sasaran yang tepat, demikian halnya dengan umpan baliknya.

Gadget dan TIK adalah alat yang diciptakan untuk mempermudah hidup manusia. Jika penggunaannya  kemudian memunculkan ketergantungan dan membatasi hak orang lain, mungkin sudah saatnya kita memikirkan ulang fungsi mereka.

Referensi:

Giddens, Anthony (et.al), Introduction to Sociology. New York: W. W. Norton & Company, 2009