Oke, setelah posting narsis bin lebay barusan, sekarang saatnya posting yang lebih serius, tentang acara Women in Technology yang diadakan oleh Female Developer bekerjasama dengan Google Business Group Indonesia. Female Developer itu sendiri adalah kegiatan ngumpul bareng developer cewek dalam bentuk workshops, diskusi atau sharing dengan sesama developer..(ya iyalah.. masak dengan kontraktor bangunan..:P). Intinya, acara ini biasanya berisi sharing pengetahuan tentang koding, program de el el yang berhubungan dengan komputer.

Nah, yang membedakan di acara FemaleDev kemarin adalah karena ada aku..(hihih..mulai narsis nihh). Jadi ceritanya, tanggal 21 April 2013 aku diminta untuk sharing hasil penelitianku tentang Adopsi TIK oleh Perempuan Pelaku UKM  dalam acara diskusi Women in Technology di Jakarta. Riset yang aku kerjakan dibawah skema 2012 Google Policy Research Fellowship ini memang sudah memasuki tahap akhir penyelesaian penelitian. To be honest, sebenarnya belum waktunya aku share hasil riset itu karena masih dalam tahap penyempurnaan analisis dan laporan. Tapi Koh Yansen Kamto yang mengundangku, punya alasan bagus sehingga aku bersedia untuk share.

Bagi developer, mungkin informasi tentang teori adopsi dan lain sebagainya tidak terlalu penting. Tapi apa yang bisa dilakukan oleh developer untuk mensikapi hasil temuan, itu yang penting. Intinya, aku mendorong para developer perempuan itu untuk mengembangkan program (komputer, mobile application, web dll) yang ramah bagi perempuan pelaku UKM, khususnya yang tinggal di perdesaan, di mana infrastruktur internet tidak terlalu optimal, dan tingkat pendidikan masih rendah.

Melihat peserta yang datang, aku jadi sangat terharu..(ahh.. si ibu mulai cengeng..). Rasanya tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang bobrok. Dengan potensi developer muda, wangi dan bening seperti yang datang kemarin, bukan tidak mungkin Indonesia menjadi negara yang berkembang di bidang IT. Dengan satu syarat: TERUSLAH BERKARYA, LUPAKAN NEGARA!!!!