Sudah sekian lama saya bersimpang siur di dunia ini (maya maupun nyata) sedikit sekali cerita saya tentang bapak. Saya mengenang bapak dengan samar-samar. Seabgai anak ke empat dari lima bersaudara, masa kecil saya tidak terlalu dekat dengan beliau. Tapi sebagai anak perempuan satu-satunya, sayalah yang paling sering disuruh Bapak dan dicari sepulang beliau dari kantor.

 

Saya mengenang bapak dengan samar-samar. Yang saya tahu Bapak adalah sosok lelaki yang tidak kenal menyerah. Masa kecilnya menderita karena ia termasuk anak dari keluarga yang tidak mampu. Tapi semangatnya tak pernah putus. Selepas ST (sekolah kejuruan setingkat SMP), Bapak mendaftar menjadi tentara. Sejak itulah Bapak tinggal di Bogor dan bertemu jodohnya di sana.

Kehidupan kami di Bogor adalah masa-masa yang samar dalam ingatan saya. Saya ingat saat itu Bapak pernah mempunyai mobil pick-up. Ketika saya bermain-main diatasnya, mobil itu meluncur mundur dan saya bergelantungan di kayu yang melintang dalam garasi kami. Dengan cekatan, bapak menurunkan saya tanpa banyak komentar (sejujurnya, saya nggak ingat apakah bapak mengatakn sesuatu pada saya atu tidak..:-( ). Selama di Bogor, kami tinggal di asrama tentara. Yang saya ingat dari tempat itu adalah lapangan bola yang luas, tempat para tentara berlatih.

Tahun 1982,  Bapak mendapatkan promosi jabatan. Kami pun berpindah ke Wonogiri. Di tempat inilah, Bapak mulai memenuhi ruang ingatanku. Pernah suatu ketika, bapak menanam semangka di halaman depan rumah kami. Pohon itu sudah berbuah. Saat itu saya masih kelas 1 SD. Tiba-tiba saya melihat seekor ulat bulu berjalan melintas batang pohon itu. Cepat-cepat saya mengambil obat nyamuk dan menyemprot ulat bulu itu. Dengan bangga saya menceritakan kejadian ini pada Bapak. Ketika blio menengok pohon semangkanya, ternyata sudah mati…

***

Ternyata, tak mudah mengingat sesuatu yang samar-samar. Apalagi menuangkannya dalam tulisan… lanjut lagi kapan-kapan yah?