Minggu lalu, saya diundang menjadi pembicara dalam Forum Tata Kelola Internet Dunia (Internet Governance Forum 2013) di Bali. Saya menjadi salah satu pembicara dalam workshop Maximizing The Power of Internet for Disaster and Environmental Change, bersama mbak Fumi Yamazaki (Google) dan mas Tomas (ITU). Workshop ini dimoderatori oleh pak Izumi Aizu. Dalam Kesempatan ini, saya mewakili Jalin Merapi (JM), berbagi pengalaman memaksimalkan penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam penanganan bencana letusan Merapi tahun 2010. Mbak Fumi juga berbagi pengalaman mengelola informasi pada Tsunami Jepang, sedang mas Tomas bercerita tentang peran ITU (International Telecomunication Union) dalam bencana.

 

Para nara sumber di workshop: Saya, mbak Fumi, Mas Tomas dan pak Izumi

Para nara sumber di workshop: Saya, mbak Fumi, Mas Tomas dan pak Izumi

Ada banyak hal dari pengalaman JM dalam penanganan bencana Merapi. Tapi, dalam IGF ini, saya memusatkan diskusi pada penggunaan teknologi yang tepat guna yang digunakan oleh Jalin Merapi. Berdasarkan pengalaman JM, saya menghitung ada 14 jenis TIK yang digunakan oleh JM untuk mengelola informasi, misalnya HT, SMS, social media, live streaming, CCTV, dll. Penggunaan ke-14 jenis TIK ini dilakukan berdasarkan karakteristik, pengguna dan fungsi masing-masing TIK. Berdasarkan pengalaman JM, setiap jenis TIK memiliki pengguna dan komunitas pengguna yang berbeda, baik perilaku maupun kebutuhannya. Komunitas pengguna Handy talkie, misalnya. Komunitas ini telah lama berdiri dengan fungsi utama memonitor kondisi Merapi. Pola komunikasi di dalam komunitas ini sudah terbentuk, sayangnya informasi mengenai kondisi Merapi hanya beredar di dalam komunitas itu sendiri. Saat Merapi meletus tahun 2010, kebutuhan publik di luar komunitas HT untuk mengetahui info terkini mengenai kondisi Merapi  sangat besar. JM mengisi celah ini dengan menyiarkan informasi audio ini melalui teknologi audio streaming dan menyebarkannya melalui social media (twitter dan facebook).  Pelajaran dari pengalaman JM ini adalah konvergensi teknologi dan media saat bencana adalah sebuah keharusan, karena tidak mungkin mengandalkan diri pada satu teknologi saja. Selain itu, konvergensi teknologi mensyaratkan adanya konvergensi aktor, setiap aktor/komunitas mempunyai perilaku dan kbutuhan informasinya sendiri.

Mbak Fumi dari Google menceritakan pengalaman Jepang mengatasi dampak Tsunami tahun 2011. Ia bercerita bagaimana Google membuat fitur personfinder yang bertujuan membantu mencari dan menemukan kerabat yang hilan saat tsunami. Gagasan ini menurut Fumi tidak terlalu berhasil, karena minimnya infrastruktur internet pasca bencana. Di lokasi bencana, orang-orang membuat mading yang berisi informasi mengenai orang hilang. Mading itu sebenarnya adalah tempelan kertas berisi data orang yang dicari atau info lokasi dimana mereka sekarang berada. Dinding berisi tempelan kertas itulah yang kemudian kemudian difoto dan diunggah ke internet. Google berhasil mengumpulkan ribuan foto mading sederhana ini. Dibantu ribuan relawan, memasukkan data-data itu ke fitur person finder. Selain itu, bekerja sama dengan beberapa profesor, Google membuat visualisasi data penduduk yang terpapar radiasi nuklir. Mengingat sulitnya mendapatkan data riil penduduk yang terpapar radiasi, para profesor ini membuat simulasi daerah yang berpotensi terpapar radiasi. Dengan demikian, di masa datang, jika ada warga yang menderita penyakit akibat radiasi nuklir, maka ia dapat segera didata tanpa harus mengatakan bahwa ia pernah terpapar nuklir. Pelajaran dari mbak Fumi adalah, di era saat ini, visualisasi data dan data visual adalah hal penting untuk mengantisipasi dampak pasca bencana.

Mas Tomas dari ITU secara berseloroh mengatakan bahwa ia merasa minder mendengar pengalaman langsung dari kami yang bergerak di lapangan, sementara ITU berperan memberi bantuan pada pihak/lembaga yang akan memberi bantuan. Sebagai lembaga internasional yang mengurusi telekomunikasi, ITU memiliki peran penting dalam hal penyediaan perangkat dan infrastruktur teknologi bagi siapapun yang memintanya. Dalam hal bencana, ITU bekerja di bawah koordinasi UN-OCHA. Salah satu hal yang dilakukan oleh ITU saat bencana adalah dengan menyediakan nomor telepon khusus (888) yang memungkinan  komunikasi vocie dilakukan ketika infrastruktur telekomunikasi hancur pasca bencana. Nomor ini memungkinkan siapapun untuk menelepon secara bebas ke berbagai wilayah. Ketika infrastruktur telekomunikasi telah tersedia, nomor ini ditutup kembali. Pelajaran dari mas Tomas adalah pada saat bencana, kerjasama antar lembaga dan pemerintah sangat penting dilakukan untuk meminimalkan korban dan kerugian. Mas Tomas sangat mengapresiasi reaksi cepat provider telepon selular  di Indonesia yang bersedia bekerja sama saat bencana.

Belajar dari pengalaman JM, Google dan ITU, satu hal yang pasti adalah megelola informasi saat bencana memerlukan kerja keras dan kerja sama antar negara dan pemerintah, dengan semangat dan niat yang terbuka. Mustahil mengharapkan sebuah negara atau wilayah pulih dari bencana jika ia hanya mengandalkan kekuatan sendiri.