Entah untuk ke berapa kali saya menerima email kosong dari mahasiswa. Tidak, mereka tidak sedang mengirim email spam. Sebaliknya, mereka mengirim the most important part of their study life, research proposal. Lalu, kenapa saya menyebutnya sebagai email kosong? iya, karena mereka mengirimnya tanpa basa-basi. Tak ada apapun di body email, bahkan sekedar uluk salam untuk saya. Terkadang, di bagian lampiran mereka tidak mencatumkan judul/nama file yang mereka unggah. Jika saya sedang tajir benwit, saya bisa membukanya untuk sekedar melihat apa isi lampiran. Tapi jika tidak, saya tak mau repot-repot membukanya. Apalagi membalasnya..

Saya sangat menyadari bahwa para mahasiswa saya hidup di generasi yang jauh berbeda dengan saya saat saya menjadi mahasiswa. Mereka hidup di mana komunikasi tanpa batas telah tercipta atas bantuan kemajuan teknologi. Teknologi telah memecah kebekuan komunikasi dan menjadikan lebih personal. Tak ada yang salah dengan kemajuan teknologi ini. Beberapa orang bahkan merayakannya dengan sukacita. Sedangkan saya lahir dan dibesarkan di era di mana komunikasi yang santun adalah hal terpenting. Saya bisa dikucilkan oleh teman-teman sebaya saya saat itu jika saya lupa memanggil mereka dengan sebutan “Mbak..” Teman saya mendapat hukuman dari orang tuanya karena tanpa sengaja memanggil nama om-nya (yang notabene seumuran) secara langsung tanpa embel-embel. Saya tak hendak membawa mahasiswa saya ke jaman saya. Namun, meski kemajuan teknologi telah sedemikian pesat,  apakah etika berkomunikasi dengan orang lain telah berubah sedemikian radikal sehingga mereka melakukan hal-hal yang telah saya ceritakan? 

Tapi kegalauan ini tidak saya rasakan sendiri. Para profesor di negara yang katanya bebas mengungkapkan pendapat pun memiliki kegelisahan yang sama. Dalam laporan berjudul To: Professor@University.Edu, Subject: Why It’s All About Me yang dimuat di harian New York Times edisi 21 Februari 2006, Jonathan Glater menjelaskan bahwa beberapa profesor di Amerika mendapatkan email dari mahasiswanya yang menanyakan bagaimana cara membeli buku catatan atau meminta pendapat mengenai kehidupan pribadinya. Menurut laporan tersebut bahasa yang digunakan oleh mahasiswa dianggap terlalu vulgar dan mengganggu bagi profesor. Laporan ini juga menjelaskan kegelisahan para dosen untuk membalas email semacam ini. Bagi dosen muda, email jenis ini membuat mereka berada dalam situasi dilematis. Jika tidak dibalas, mereka khawatir para mahasiswa akan memberikan penilaian jelek atas kinerja mereka. Sebaliknya, jika dibalas, para dosen ini cemas email sejenis akan lebih banyak datang dan tentu saja mengganggu pekerjaan mereka.

Beberapa dosen di universitas di Amerika menerapkan aturan yang baku dalam hal korespondensi via email. Asisten Profesor Meg Worley dari Ponoma College di California mengharuskan mahasiswanya untuk membalas email yang ia kirim, meski hanya sekedar ucapan “terima kasih”.

Kembali ke masalah yag saya hadapi, menurut saya etika menulis dan membalas email adalah hal yang perlu diajarkan (kembali) kepada mahasiswa khususnya di Indonesia. Saya menganggap diri saya cukup dekat dengan mahasiswa khususnya mahasiswa wali saya, in certain ways. Tapi saya terganggu dengan cara mereka berkorespondesi dengan saya. Sebuah kekhawatiran menyeruak jika perilaku ini dibiarkan, bagaimana mereka menghadapi dunia kerja dimana etika korespondensi lebih ketat diterapkan? Makanya saya sungguh berharap mereka mengubah perilaku itu dan menyadari pentingnya mengirim dan membalas email dengan santun.

So my dear student, if you expected me to reply your email, please behave correctly. Tulislah tujuan  dan gambaran singkat alasan kalian mengirim email. Jangan lupa ucapkan salam di awal surat dan terima kasih di akhir email.

ASD di pojokan setiabudi.