Sudah dua bulan ini saya menekuni aktivitas lama saya, antar jemput anak dari dan ke sekolah. Saya menyebutnya aktivitas lama karena sejak saya pindah ke rumah kontrakan, anak-anak berangkat dan pulang naik sepeda. Saya terbebas dari kewajiban ini selama kurang lebih 9 bulan. Namun, ketika anak mbarep saya masuk SMP, #indi, saya harus mengantar dan menjemputnya karena letak sekolah yang lumayan jauh dari rumah.

Sebenarnya sekolah #indi terletak cukup strategis, berada di dalam benteng keraton jogja yang dapat diakses dari mana saja. Hanya satu kelemahannya, tidak ada transportassi publik yang memadai untuk mencapai sekolah tersebut. Sebenarnya hal ini juga disebabkan karena letak rumah kontrakan yang jauh dari jalan raya dan shelter busway. Untuk bisa mencapai shelter terdekat, kami harus berjalan antara 1-2 km. Persoalan lain adalah, jadwal busway yang tidak dapat diprediksi. Untuk anak sekolah, hal ini menjadi masalah besar karena ketiadaan jadwal yang jelas dapat menyebabkan mereka terlambat masuk sekolah.

Sebagai kota pelajar, menurut saya keberadaan transportasi publik sangatlah mendesak. Rasanya tak sangat aneh melihat kota pelajar yang sesak dengan kendaraan pribadi. Belum lagi soal perilaku pengguna jalan yang sering ngawur.

Sejujurnya, saya sering merasa sedih melihat jalanan di Jogja yang dipenuhi oleh mobil-mobil dengan kapasitas penumpang 7-8 orang, tapi hanya diisi 1-2 orang saja. Bagi saya, ini adalah bentuk kemubadziran yang luar biasa. Sumber daya jalan yang terbatas itu seharusnya dimanfaatkan untuk sebanyak mungkin pengguna. Pengadaan transportasi umum yang layak, tepat jadwal dan menjangkau seluruh wilayah adalah salah satu solusi yang mendesak untuk dilakukan.

Ahh.. saya bermimpi ..