Subuh tadi air mata saya menetes mengingat ibu dan almarhum bapak. Usai membaca Perahu Kertas, tiba-tiba dada saya sesak oleh sesuatu yang tidak saya ketahui namanya. Saya sangat terkesan dengan cerita dalam novel itu, meski ceritanya berkisar tentang kisah cinta dua anak manusia. Namun ketika saya merefleksikannya dalam kehidupan saya, betapa cinta yang demikian agung telah saya rasakan dan terima dari kedua orang tua saya.

Saya tak pernah benar-benar dekat dengan ibu saya. Sepanjang ingatan saya, saya jarang bercerita tentang apa yang saya rasakan kepada beliau, terlebih ketika saya masih duduk di bangku sekolah. Saat itu saya merasa lebih nyaman bercerita pada buku harian saya, atau pada bintang yang saya lihat setiap malam di halaman belakang rumah. Tapi bukan berarti saya anak pendiam. Saya bercerita apa saja pada ibu, tapi jarang mengutarakan perasaan saya kepada ibu. Saya hanya menceritakan pengalaman saya.

Ketika saya kuliah, semakin banyak perasaan yang saya simpan. Saya membagi perasaan itu dengan teman dekat yang sekarang menjadi suami saya. Kepada orang tua, saya (lagi-lagi) menceritakan (hanya) pengalaman saya. Tapi mereka bahagia. Mereka tak pernah mempertanyakan apa yang saya rasakan. bagi mereka, mendengar anaknya berbagi pengalaman (mungkin) sudah cukup.

Saya berubah ketika saya menjadi ibu. Saya merasa ada yang kurang jika anak-anak saya tidak menyampaikan perasaan mereka. Perasaan sedih, marah, bahagia atau gembira yang mereka alami selalu menjadi hal ingin saya ketahui. Anak-anak saya sering bercerita dan saya cukup aktif menanyakan apa yang mereka alami hari itu. Tapi di akhir cerita mereka saya selalu menambah pertanyaan, “apakah kamu bahagia hari ini?” ” kenapa kamu sedih” “siapa yang membuatmu marah?” dan lain sebagainya.

Kepada ibu saya, saya mulai terbuka menyampaikan perasaan saya. Konflik yang terjadi di kantor, di rumah atau di mana saja. Dan ternyata, saya menyukai hal ini. Senang rasanya mengetahui ada orang yang bisa diajak berbagi perasaan suka dan duka. Bahagia rasanya melibatkan orang tercinta untuk belajar dari berbagai perasaan tersebut. Ketika anak-anak membagi perasaan suka dan dukanya pada saya, saya merasa bahagia menjadi orang yang mereka percaya. Saya merasa bahagia bisa membantu mereka belajar dan mengatasi masalah mereka. Mungkin, perasaan inilah yang juga dirasakan ibu saya akhir-akhir ini.

Jika dulu saya selalu beranggapan bahwa menceritakan masalah atau duka di hati saya hanya akan menambah beban hidup orang tua saya, sekarang sya justru berpikir sebaliknya. Menceritakan masalah atau duka, justru mendekatkan hati saya dengan hati ibu saya dan melibatkannya dalam proses pendewasaan diri saya. Memang tak semua solusi bisa saya peroleh dari ibu saya. Tapi saya selalu ingin mendengar beliau berkata, ” Ibu selalu mendoakanmu agar cepat menyelesaikan masalahmu..” Mungkin doa ibu lah membuat saya bisa  menemukan solusi sehingga saya menyelesaikan masalah. Bukankah doa ibu dan bapak yang telah menjadikan kita seperti saat ini?

Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalasibuibu….

(Iwan Fals, Ibu)