Seminggu lalu, saya terpaksa menyaksikan adegan yang sama di ruangan kantor saya. Mahasiswa yang mendekati batas kadaluarsanya (alias menjelang drop out) berjalan menunduk menyerahkan skripsi tak lebih dari 60 halaman yang ditulis seadanya. Pemandangan ini sungguh menyesakkan dada saya karena saya sangat memahami potensi mereka. Saya yakin mereka mempunyai kemampuan lebih dari itu.

Saya sering tak habis pikir. Bagi saya, delapan sampai  sembilan semester di kampus adalah waktu yang lebih dari cukup untuk menyelesaikan karya akhir mereka. Kurikulum telah dirancang sedemikian rupa agar mahasiswa dapat selesai kuliah dalam empat tahun. Kami telah mengatur penempatan mata kuliah sedemikian rupa agar mahasiswa dapat mengikuti perkuliahan secara berkesinambungan. Proses pembaharuan kurikulum dilakukan setiap empat tahun, agar tema dan materi terkini mendapat tempat di kurikulum baru. Dosen-dosen pengajar juga selalu diupdate agar tidak lupa memasukkan tema terkini dalam materi kuliah mereka. Harapannya agar mahasiswa mempunyai wawasan terbaru mengenai masalah sosial yang sedang terjadi sehingga mereka tertarik untuk menelitinya. Lalu mengapa masih banyak mahasiswa yang lulus pas pasan karena ancaman DO? Jika melihat tingkat kelulusan tepat waktu, ternyata masih banyak mahasiswa yang akhirnya melewati batas masa perkuliahan dan akhirnya DO..

Dari pengamatan dan wawancara saya dengan para mahasiswa tingkat akhir, saya mendapatkan beberapa data .

1. Dari para mahasiswa tersebut, saya mengetahui bahwa sebagian besar dari mereka bekerja sambil kuliah. Jenis pekerjaan mereka pun beragam. Mulai dari pekerjaan kasar seperti tukang cuci piring di kafe-kafe atau jaga warnet, sampe pekerja kantoran seperti menjadi asisten peneliti atau redaktur majalah. Bahkan ada seorang mahasiswa yang menjadi direktur sebuah lembaga bahasa di Jogja. Hebat!! kepada mereka saya mengacungi jempol…

Persoalannya adalah, jenis pekerjaan mereka menuntut seluruh waktu dan pikiran mereka. Dugaan saya, mereka tak sempat meluangkan waktu untuk mempelajari kembali teori atau sekedar datang ke lokasi penelitian untuk mengumpulkan data. Selain itu, mereka bekerja karena itulah cara mereka bertahan hidup. Sebagian besar mahasiswa yang bekerja sambil kuliah adalah anak-anak yang tidak lagi mendapat dukungan finansial dari orang tuanya. Jika mereka tak bekerja, lalu bagaimana mereka membayar SPP dan biaya hidup di Jogja? Untunglah, kantorku tergolong kampus dengan SPP terendah se-Jogja.

2. Salah satu titik krusial dalam penyusunan skripsi adalah pasca KKN. Dalam kurikulum kami, penulisan skripsi diletakkan di semester 7, setelah KKN berakhir. Celakanya, euforia KKN yang menyenangkan itu seringkali melenakan mahasiswa. Terlebih lagi pasca KKN kebanyakan dari mereka sudah selesai mengambil mata kuliah teori yang mengharuskan mereka datang ke kampus dan kuliah. Akibatnya, mahasiswa pasca KKN sering lupa kalau mereka masih memiliki satu tanggung jawab besar.

Sebenarnya kurikulum kami telah menyiasati hal ini dengan meletakkan mata kuliah Penyusunan Desain Penelitian sebelum KKN. Output mata kuliah ini adalah sebuah proposal penelitian yang layak untuk diteruskan menjadi skripsi. Ujian mata kuliah ini dilakukan selayaknya ujian proposal: ada 2 dosen penguji yang membahas kelayakan proposal tersebut.Harapannya, pasca KKN mereka dapat segera meneruskan proposal tersebut menjadi proposal skripsi. Sayangnya, mata kuliah ini sering dianggap sebelah mata. Proposal yang dikumpulkan mahasiswa seringkali adalah proposal asal-asalan yang dikerjakan semalam suntuk. Akibatnya kami sering menemukan plagiarism dalam proposal tersebut. Saya sering mengatakan kepada mereka bahwa jika mata kuliah ini tidak diseriusi, maka mereka telah menyia-nyiakan satu semester dalam masa perkuliahan mereka.

What next?

Menyikapi masalah di atas, beberapa hal yang dapat saya sampaikan adalah sebagai berikut:

1. Membuat prioritas. Meski terdengar klise, menentukan prioritas adalah hal yang sangat penting, terutama bagi mahasiswa yang kuliah sambil bekerja. Di awal kuliah, pihak pengelola kampus telah memberikan gambaran mengenai mata kuliah yang akan diambil selama masa perkuliahan. Daftar mata kuliah selama perkuliahan ini seharusnya menjadi acuan kapan sebaiknya ia bekerja keras untuk mengumpulkan uang, kapan ia sebaiknya berhenti sejenak dan fokus mengerjakan skripsi. Memang tak mudah untuk menaati acuan tersebut. Tapi prinsip saya adalah seorang yang sukses adalah mereka yang mampu membagi waktu dengan baik. Salah satu contoh, ada seorang mahasiswa yang mulai bekerja di semester dua. Ketika ia memasuki semester tujuh, ia meminta ijin untuk berhenti dari pekerjaannya dan serius mengerjakan skripsi. Ia berhasil lulus di semester 8.

Salah satu hal yang membuat mahasiswa yang kuliah sambil bekerja enggan berhenti sejenak dari pekerjaannya adalah ketakutan tidak mendapat pekerjaannya lagi jika ia berhenti. Namun percayalah, Allah telah menetapkan rejeki kita masing-masing. Dan saya percaya, lulus S1 membuka peluang bekerja yang lebih besar.

2. Stay in touch with your friends, especially those who try hard to finish their final thesis. Mungkin saja, salah satu alasan kenapa mahasiswa tingkat akhir enggan kembali ke kampus pasca KKN adalah malu. Banyak mahasiswa yang blingsatan ketika ditanya: kapan lulus? sudah skripsi belum? Bagi mereka, pertanyaan itu sungguh menyakitkan (sambil nunjuk dada..) terlebih mereka yang belum mendapatkan secuil ide untuk skripsinya. Tapi percayalah, berada di sekitar teman yang sedang menyusun skripsi akan meningkatkan semangat. Tak usah hirau dengan pertanyaan atau ejekan itu. Jawab dengan senyum saja. Tapi pastikan bahwa skripsi itu sedang dikerjakan.

3. Make your own deadline. Cara ini saya terapkan, khususnya pada mahasiswa bimbingan akademik saya. Pertama, saya meminta kepada seluruh mahasiswa untuk menentukan sendiri, kapan mereka akan wisuda. Di kantor saya, periode wisuda selalu tetap dari tahun ke tahun. Dengan demikian, mahasiswa dapat dengan mudah menentukan kapan mereka akan wisuda. Selanjutnya, saya akan meminta mereka untuk melaksanakan ujian skripsi, maksimal 1 bulan sebelum pelaksanaan wisuda. Mengapa satu bulan? karena pada masa tenggang sebulan paska ujian skripsi mahasiswa akan disibukkan dengan urusan persiapan wisuda. Ketiga, maksimal 3 bulan sebelum ujian skripsi, mereka harus sudah memulai mengumpulkan dan analisis data . Proses pengumpulan data mungkin memakan waktu kurang lebih 2 bulan, sedangkan analisis data dan penulisan laporan diperkirakan selesai dalam waktu 1 bulan. Terakhir, 4 bulan sebelum ujian skripsi, mereka sudah harus ujian proposal skripsi. Artinya, diskusi awal dengan pembimbing skripsi harus selesai dalam waktu satu bulan agar ia punya waktu yang cukup untuk mengurusi perijinan penelitian.

Dengan menentukan sendiri deadline skripsi, secara tidak langsung saya meminta mahasiswa untuk bertanggung jawab pada skripsi mereka. Jika mereka melenceng dari deadline tersebut, mereka sendiri yang harus memperbaikinya. TUgas saya sebagai dosen pembimbing skripsi adalah memastikan bahwa prosedur penyelesaian skripsi telah dilakukan dengan benar dan sesuai standar akademik. Cara yang saya terapkan ini telah berhasil dilakukan oleh sebagian besar mahasiswa bimbingan saya.

4. Your final thesis is your prove to your parents. Ketika saya menyelesaikan kuliah S2, saya sampai pada satu kesimpulan bahwa ijazah sarjana saya adalah hutang saya kepada orang tua. Sedangkan ijazah S2 saya adalah hutang saya kepada suami dan anak-anak saya. Saat itu saya berkesimpulan semata-mata karena kuliah S1 saya dibiayai oleh orang tua. Tapi saya sering mendengar ibu menceritakan suka dukanya menguliahkan saya. Saya yakin banyak orang tua yang melakukan hal ini. Bagi mahasiswa yang kuliah atas biaya sendiri, yakinlah bahwa kebanggaan orang tua melihat anaknya selesai kuliah adalah salah satu kebahagiaan terbesar. Oleh karena itu, lunasi hutang itu, selesaikan kuliah anda dengan baik dan nilai-nilai yang memuaskan.