Sudah sepekan saya bekerja di rumah. bukan karena saya sakit, tapi karena lingkungan kerja di kantor saya tidak mendukung.

Sebagai mahasiswa program doktoral, saya menempati sebuah sudut working space di sebuah bangunan di kampus University of Queensland. Working space tersebut saya bagi bersama beberapa mahasiswa doktoral lain dari fakultas yang berbeda. Sebagian besar penghuni ruangan tersebut adalah mahasiswa semester akhir yang sedang dikejar deadline pengumpulan disertasi. So, can you imagine how tense and depressed they are?

Di sudut ruangan itu, saya dan seorang kawan dari Sekolah Bisnis Universitas Queensland berbagi sudut. Kami sama-sama mahasiswa baru sehingga tekanan dan depresi masih jauh dari wajah kami. Satu-satunya hal yang membuat kami stress adalah tugas kuliah yang berjibun (untungnya masa-masa itu sudah berlalu, berganti teror pengumpulan proposal penelitian akhir tahun ini…hiii)

Dengan background situasi yang berbeda tersebut, maka dapat dibayangkan bagaimana interaksi di antara para penghuni ruangan itu. so flat and cold. Para mahasiswa lama tak pernah bertukar cerita (kecuali satu orang mahasiswi yang sering menegur dan bertukar cerita dengan ku. Dia sudah lulus akhir semeter lalu). Satu-satunya interaksi adalah saling tersenyum ketika berpapasan atau meminta ijin untuk membuka pintu ruangan agar udara segar bisa masuk.

Ruangan kerja kami sangat sepi. Para mahasiswa lama tak suka mendengar suara apapun kecuali suara keyboard komputer atau mouse. Ibaratnya, bunyi sebatang jarum jatuh pun akan menghilangkan konsentrasi mereka.

Situasi ini sangat menggelisahkan saya. Gaya belajar dan bekerja saya adalah kebalikan dari gaya belajar para mahasiswa lama itu. Saya terbiasa bekerja sambil mendengarkan musik, menonton film, memakan cemilan, minum kopi dan membalas pesan masuk. Semua yang saya lakukan itu menimbulkan suara-suara khas. Maka ketika saya dua kali ditegur oleh penghuni ruangan itu karena suara crackers yang saya makan terlalu keras dan bunyi denting sendok saya mengganggu rekan sebelah meja, saya memutuskan untuk bekerja di rumah.

Untunglah dan thank to my love yang mengatur rumah sedemikian sehingga saya bisa bekerja dengan tenang. satu sudut di kamar tidur disulap menjadi meja kerja saya, lengkap dengan semua peralatan yang saya butuhkan. Kulkas dan lemari dapur selalu penuh dengan stok cemilan dan kopi, sehingga kapanpun saya ingin ngemil selalu tersedia. Koneksi internet di set sedemikian sehingga saya bebas mendownload jurnal atau lagu yang saya suka. Selebihnya terserah saya. Sekeras apapun lagu yang saya setel, tidak akan ada yang protes. Paling-paling suami dan anak-anak yang terganggu dengan suara cempreng saya.. heheh..

Terakhir, saya berharap lingkungan kerja saya yang baru ini berdampak positif pada proses penulisan proposal saya. Mohon doanya ya?