Ndak. Saya ndak akan bercerita atau beropini tentang duel klasik moge vs pesepeda yang lagi ngehits di Indonesia, meski saya salut dan menjura pada apa yang telah Joyo lakukan. Bukan apa-apa, saya sangat memahami apa yang Joyo lakukan sehingga saya cuma bisa manthuk-manthuk. Selain itu, apa yang Joyo lakukan sudah banyak diulas oleh para pakar. Melalui tulisan ini, saya hanya ingin berbagi pengalaman naik motor (dan kendaraan bermesin lainnya) di Brisbane.

Sebagai orang yang ndak terlalu berani menyetir mobil, pilihan alat transportasi saya sangat terbatas. Meski angkutan umum di sini (sangat) lebih baik dari angkutan umum di kampung halaman, kebutuhan untuk berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain secara cepat, tidak bisa terpenuhi oleh angkutan umum yang tersedia. Sebagai informasi, Pemerintah Queensland menyediakan moda transportasi umum berupa bis, kereta, trem dan ferry bagi penduduknya. Di kota Brisbane dan sekitarnya, hampir semua wilayah terjangkau oleh angkutan umum tersebut. Di beberapa titik pusat keramaian, angkutan umum tersebut terintegrasi satu sama lain, misalnya terminal bis yang terintergrasi dengan stasiun kereta atau trem. Sungai Brisbane yang membelah kota ini memiliki beberapa titik dermaga ferry (atau disebut citycat) untuk mengantarkan penumpang dari hulu ke hilir sungai Brisbane. Penumpang cukup membeli tiket on the spot atau berlangganan melalui go card untuk bisa mengakses angkutan tersebut. Para mahasiswa, pelajar dan pensiunan mendapat diskon khusus. Jadwal kedatangan dan keberangkatan angkutan tersebut cukup teratur, meski kadang masih ada beberapa rute yang terlambat 2-5 menit. Di akhir minggu, beberapa rute meniadakan jadwalnya atau mengurangi jumlah armadanya. Meski demikian, kebutuhan transportasi masih dapat dijangkau oleh penggunanya.

 

Meski ongkos angkutan umum dapat dikatakan cukup terjangkau, namun jika dihitung-hitung pengeluaran per minggu untuk membeli tiket atau top up go card lumayan besar bagi mahasiswa. Apalagi tujuan terlalu dekat jika ditempuh dengan menggunakan bis, namun lumayan jauh jika harus jalan kaki. Belum lagi jika pengguna angkutan umum adalah keluarga seperti kami. Jika ongkos naek bis per orang adalah kurang lebih 1.5 dolar, maka jika kami berempat ingin bepergian, total pengeluaran sekali jalan adalah 6 dolar (ini mengasumsikan kami berempat menggunakan tarif diskon mahasiswa dan pelajar). Padahal biaya sebesar itu dapat digunakanuntuk membeli bensin untuk keperluan wira-wiri selama seminggu. Oleh karena itu, sejak kedatangan suami dan anak-anak, kami membeli mobil second untuk urusan mobilitas kami.

 

Sayangnya persoalan tak kemudian berhenti di sini. Selain faktor yang saya sebutkan di awal (saya belum berani nyetir mobil meski sudah punya SIM A), persoalan klasik seperti sulitnya mencari tempat parkir dan biaya parkir yang (sangat) mahal baik di kampus maupun di pusat-pusat keramaian, memaksa kami untuk memutar otak. Pilihan kedua adalah dengan membeli sepeda. Lagi-lagi masalah timbul. Sebagai informasi, kontur tanah di daerah kami tinggal cukup berbukit-bukit dengan tingkat kecuraman yang cukup membuat napas peseda amatiran kayak saya ini ngos-ngosan. Masalah ini bisa diatasi jika kami memiliki sepeda yang bagus dan sesuai dengan rute harian saya. Tapi sepeda yang demikian harganya bisa bikin jantungan. Maka ketika suami saya menawarkan alternatif sepeda motor, saya pun menyetujuinya.

 

Sejak proposal membeli sepeda motor saya setujui, suami saya aktif mencari informasi penjualan sepeda motor second di website jual beli terbesar di Australia, Gumtree. Kami akhirmya memilih sepeda motor merk Honda Lead 100cc, kalo di Indonesia, mungkin mirip-mirip Honda Vario. Kami memilih motor matic karena sepeda motor dengan transmisi manual sangat jarang yang memiliki cc kurang dari 500. Artinya, jika saya ingin membeli motor dengan transmisi manual, pilihan saya terbatas pada motor-motor gede atau motor balapan. Selain itu, harga motor jenis ini benar-benar merusak dompet.

 

Kelar urusan memilih jenis motor, kami pun mendapatkan motor yang sesuai dengan kantong dan spesifikasi. Honda Lead matic kami beli dari  Matt, seorang warga Brisbane. Kami membuat janji untuk melihat dan mencobanya, menawar harga sampai akhirnya bersepakat untuk membeli. Oleh karena kami akan menggunakan motor tersebut untuk berboncengan, maka pertanyaan pertama yang kami ajukan kepada Matt adalah apakah registrasi motor tersebut untuk satu penumpang atau dua penumpang. Registrasi yang saya maksud adalah pendaftaran motor ke Departemen Transportasi. Kalo di Indonesia mungkin mirip dengan STNK. Pertanyaan itu penting karena jika pemilik lama mendaftarkan motornya untuk satu penumpang, maka pengguna baru tidak bisa menggunakannya untuk berboncengan. Jika ingin berboncengan, maka pemilik baru harus mengupgrade registrasinya. Dari Matt kami mendapatkan informasi bahwa speda motornya telah didaftarkan untuk dua penumpang, jadi kami tak harus mengupgrade lagi. Oya, perlu diketahui biaya pajak motor dan mobil di sini tidak terpaut jauh. Untuk pajak motor selama 6 bulan, kami dikenai biaya kurang lebih 250 dolar, sedangkan mobil sebesar 350an dolar. Mungkin inilah alasan kenapa orang-orang di sini lebih memilih membeli mobil ketimbang motor.

 

Setelah urusan pajak dan tanda kelaikan kendaraan bermotor selesai, kami kemudian mencari helm. Pengguna motor tidak boleh menggunakan sembarang helm. Helm harus memiliki standard kelayakan dan telah lulus uji kelayakan dari Departemen Transportasi. Kalo di Indonesia, harus lulus uji SNI. Persoalannya, di sini tidak ada penjual helm di pinggir jalan seperti yang merebak di sekitar Gereja Kota Baru. Untuk membeli helm, kami harus pergi ke toko peralatan bermotor dan harga helm disini sungguh membuat kami deg-degan. Helm standard bisa mencapai 40-50 dolar, belum lagi helm full face macam pembalap. Wuih, stipend seminggu bisa bais Cuma buat beli helm.. Pilihan lain adalah membeli helm second di gumtree. Akhirnya kami mendapatkan helm yang kami butuhkan dengan harga 10 dolar. Lumayanlah, yang penting memenuhi standard SNI.

 

Setelah semua urusan selesai, saya dan suami kemudian mempelajari aturan-aturan dasar berkendara motor di Brisbane. Tanda-tanda lalu lintas harus dipahami dengan baik jika tidak ingin kena tilang. Marka jalan dan rambu-rambu lalu lintas bukan cuma buat pajangan. Batas kecepatan harus benar-benar ditaati jika tidak ingin ditilang atau diklakson oleh pengguna jalan yang lain (satu hal yang sangat jarang saya dengar meski jalan macetnya luar biasa).  Misalnya jika saya berada di bunderan (roundabout), saya harus mendahulukan kendaraan dari sebelah kanan saya. Atau garis kuning tanpa putus di bahu jalan artinya dilarang parkir, meski tidak ada tanda P dicoret. Atau jika ingin berpindah jalur, lampu sein harus dinyalakan untuk memberi tanda pengguna jalan yang lain. Jika tidak ingin salah jalur, sebelum bepergian kami harus mempelajari jalur mana yang harus kami ambil. Lampu kuning di traffic light artinya saya harus berhenti meski jika motor saya gas pol, saya masih bisa menerabas. Para penerabas lampu merah dipersilakan bersiap-siap menunggu email tilang sebesar 300 dolar karena di beberapa traffic light ada kamera pencatat kecepatan. Garis putih tanpa putus di perempatan artinya saya harus berhenti selama kurang lebih 3 detik sebelum meneruskan perjalanan, sedang garis putih putus-putus artinya saya boleh berhenti dan atau terus.

 

To be honest, makna dan arti rambu-rambu lalu lintas itu baru saya pahami sejak saya di sini. Saat saya masih di Indonesia, saya sering mengabaikannya, kecuali jika ada polisi berdiri di pinggir jalan. Saya akui saya adalah satu dari sekian banyak pengguna jalan yang turut berkontribusi pada rusaknya tatanan aturan lalu lintas di Indonesia. Saya turut bersalah karena ikut memakmurkan kesalahan-kesalahan kecil hingga akhirnya menumpuk dan (terasa) sulit untuk dibetulkan. Di sini saya tidak berani melakukan kesalah-kesalahan tersebut. Mata pengawasan di jalan ditanam di berbagai tempat melalui cctv, speed camera dan denda tilang yang luar biasa mahal. Saya bukan termasuk golongan yang menyetujui pengawasan massif, tapi dalam konteks keselamatan berkendara dan berlalu lintas, saya setuju dengan model penegakan aturan yang demikian. Prinsip bahwa jalan raya adalah hak bagi penggunanya, tidak memandang jenis kendaraan yang digunakan, perlu dijaga melalui cara-cara yang (cenderung) otoritatif seperti ini.

 

Saya memandang, hal ini belum diterapkan di jalan raya di Indonesia. Jalan raya adalah hutan rimba dimana yang kuat yang akan menang. Kuat dalam hal ini dapat berupa jenis kendaraannya (moge, mobil mewah), jumlahnya (konvoi, pawai, rombongan) atau eventnya (funbike, kampanye, suporter). Celakanya, adu kuat ini didukung oleh penegak hukum yang gampang terbujuk oleh kekuatan uang. Klop sudah. Oleh karena itu, berdasarkan pengalaman saya masih secuil ini, saya menganggap bahwa untuk dapat mengatasi berbagai persoalan di jalan raya, dua hal harus dilakukan: 1. Membersihkan penegak hukum dari bias subyektifitas dalam menjalankan tugas (artinya tidak boleh mengistimewakan satu pihak di atas pihak yang lain) dan 2. Konsistensi dalam penegakan hukum harus dijalankan (artinya jika ada pengguna jalan yang melanggar turan, harus ditindak dengan tegas tidak peduli siapapun mereka).