Saya: Ndi, coba dengerin lagu ini deh.. (nyetel Starman-nya David Bowie).

#indi: Siapa dia bu?

Saya: jadi, david bowie itu adalah…(mulailah saya bercerita tentang Bowie…)

***

Saya tidak mengenalnya dengan baik. Karya-karyanya yang spektakuler sehingga ia dijuluki seniman yang paling berpengaruh dalam dunia music dan akting, jarang saya dengar. Kecuali duetnya dengan Queen dalam lagu Under Pressure. Saya tau, itupun karena Queen-nya, bukan David Bowie. Oleh karena itu, saya tidak terlalu merasa kehilangan atas kepergiannya. In fact, saya justru merasa berterima kasih karena telah diwarisi lagu-lagu yang (ternyata) sangat asik di kuping. Terberkatilah orang-orang yang meninggalkan karya terbaiknya untuk dikenang sepanjang masa.

Saya ndak akan bercerita dan bernostalgia tentang David Bowie. Majalah dan media massa udah banyak yang mbahas, apalah saya inih… Kepergian David Bowie kemarin justru memicu diskusi saya dengan #indi tentang banyak hal. Ketika saya mengatakan bahwa usia Bowie saat ia meninggal ternyata seumuran dengan ibu saya, Indi tiba-tiba bertanya: “Lho, brarti selama ini dia masih hidup? Tapi kok nggak ada beritanya?”

“Iya, dia sakit kanker, jadi jarang ada pemberitaannya,” kata saya.

Tiba-tiba obrolan pagi itu mengalir hingga ke masa kecil simbah-simbah nya Indi, alias almarhum bapak dan bapak mertua serta almarhumah ibu mertua. Betapa masa kecil mereka harus merasakan penjajahan Jepang. Lalu, tanpa menyalakan lampu sein, tetiba saya bercerita tentang perjalanan karir bapaknya Indi. Bagaimana #pahaji memulai karir sebagai aktivis radio komunitas tahun 2000 hingga akhirnya berhenti bekerja di LSM tahun 2012 dan memulai karir sebagai anggota ICMI alias Ikatan Cleaning Mahasiswa Indonesia cabang Queensland. Saya bercerita tentang mengapa radio komunitas pernah (semoga hingga saat ini masih) memainkan peran penting sebagai sumber informasi untuk masyarakat kecil. Kemudian, dominasi Internet dan social media memaksa media komunitas dan media mainstream untuk beradaptasi terhadap perubahan. Saya menyinggung juga tentang kematian beberapa media cetak yang kalah dengan media online. Indi menimpali cerita saya dengan pengamatan dan analisanya tentang trend pengguna internet dan social media. Katanya, Facebook sekarang udah ditinggalkan oleh generasi muda. Mereka beralih platform dimana pengguna dewasa belum banyak, seperti Tumblr. Ia juga bercerita tentang bagaimana platform berbagi musik, Spotify, makin popular.

 

Saya sangat menikmati obrolan dan diskusi kami pagi tadi. Kami mengobrol sambil mengeringkan rambut, bedakan dan mengoleskan body lotion. Kami mengobrol di depan kaca besar di dalam kamar tidur, sambil saya memilih pakaian apa yang akan saya pake ke kantor hari ini. Saya menikmati obrolan dan diskusi pagi tadi, karena saya teringat hal yang sama saat saya seumuran Indi. Ibu saya, waktu itu adalah anggota DPRD, selalu mempunyai ritual pagi sebelum berangkat kantor. Berdandan dan mematutkan diri di depan kaca, adalah kesempatan saya untuk bercerita apapun pada ibu saya. Obrolan akan makin intens jika ibu saya berdandan khusus untuk sidang paripurna, karena ibu akan memakai kebaya.

 

Ngobrol dengan ibu juga sering saya lakukan ketika ibu menjahit baju, memasak, mencuci piring, mengetik laporan komisi, dan lain-lain. Dari obrolan tersebut, saya belajar dengan melihat. Saya belajar bagaimana memakai bedak, menggambar alis, menyasak rambut untuk sanggul, memakai kain panjang bahkan memakai korset. Ketika menunggui ibu menjahit, saya belajar bagaimana memasang resleting, bagaimana memasang lenga dengan baik, bagaimana membuat lobang kancing hingga bagaimana mengesum ujung pakaian dengan rapih. Alhamdulillah, dari belajar dengan melihat itu, saya bisa menjahit baju sendiri, membuat tas kuliah. Sayangnya, saya ndak begitu perhatian ketika saya menunggui ibu memasak. Akibatnya, ketrampilan memasak saya hanya sebatas bikin oseng-oseng dan sayur sop atau menggoreng pisang.

 

Kesimpulannya, obrolan anak dengan orang tua bisa tercipta kapan saja dan di mana saja. Tinggal bagaimana orang tua dan anak memanfaatkan kesempatan itu. Kemajuan teknologi memang tidak bisa dihindari lagi, tapi apakah kita kemudian menyerah begitu saja? Anyway, terima kasih social media, berita tentang meninggalnya David Bowie telah menjadi bahan diskusi hangat kami tadi pagi.