2016. Tahun kedua saya merayakan ulang tahun Republik Indonesia di Brisbane. Entah kenapa, tahun ini saya merasa sangat sedih karena tidak bisa mengikuti upacara bendera (sesuatu yang dulu tidak saya sukai). Saya sedih karena melewatkan malam tirakatan dan segenap keriuhan menjelang 17 Agustus.

Mungkin karena saya sedang sangat kangen Indonesia. Mungkin juga karena berada jauh dari tanah air, membuat saya berpikir bahwa betapa saya sangat mencintai Indonesia, dengan seluruh kejelekan dan kebaikannya.

Indonesia bagi saya adalah harapan. Saya percaya bahwa masih banyak yang bias dan harus dilakukan untuk Indonesia yang lebih baik. Saya percaya bahwa banyak yang bekerja dalam diam untuk memperbaiki Indonesia. Kepada mereka, saya berterima kasih setulus-tulusnya. Saya berdoa semoga mereka tak lelah dan putus asa, meski berbagai halangan (mungkin) merintangi jalan mereka. Sekecil apapun yang dilakukan, setidaknya mereka telah berbuat sesuatu.

Menikmati hidup dan pendidikan di negara ini tak mungkin dapat terjadi tanpa perjuangan para pahlawan. Sejarah memang ditulis oleh pemenangnya, tapi saya tidak bisa menafikan kenyataan bahwa keberadaan saya sekarang, di sini, adalah berkat perjuangan mereka. Kepada mereka, saya berterima kasih dan berutang rasa.

I love you, Indonesia, for better and for worse. In sickness and health, till death do us part.